Koran Jakarta | July 18 2019
No Comments
Penyalahgunaan Jabatan

Anggota DPR Bowo Sidik Disuap USD 158.733 dan Rp311 Juta

Anggota DPR Bowo Sidik Disuap USD 158.733 dan Rp311 Juta

Foto : ANTARA/APRILLIO AKBAR
MEMBERI SUAP - Terdakwa General Manager Komersial PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasti bersiap menjalani sidang dengan agenda dakwaan, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (19/6). Jaksa Penuntut Umum KPK mendakwa Asty Winasti melakukan suap terhadap mantan anggota DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – General Manager Komersial PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasti, didakwa jaksa penuntut umum (JPU) Komi­si Pemberantasan Korupsi (KPK) memberi suap kepa­da anggota DPR RI periode 2014–2019, Bowo Sidik Pangarso (BSP), sebesar 158.733 dollar Amerika Serikat (AS) dan 311.022.932 rupiah. Jaksa menyebut Asty memberi suap bersama Direktur PT Hum­puss Transportasi Kimia, Tau­fik Agustono. Uang suap ini berikan Asty melalui orang kepercayaan Bowo, yaitu pi­hak swasta dari PT Inersia, Indung (IND).

“Uang suap tersebut di­berikan agar Bowo Sidik Pan­garso selaku anggota Komisi VI DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan seluruh BUMN di In­donesia untuk membantu PT HTK mendapatkan kerja sama pekerjaan pengangkutan dan/atau sewa kapal dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog),” kata Jaksa KPK, Kiki Ahmad Yani, saat membacakan dakwaan Asty di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu (19/6).

Dalam dakwaan disebut PT HTK merupakan perusa­haan yang bergerak di bidang pelayaran dan penyewaan ka­pal untuk pengangkutan kim­ia cair, minyak, dan gas. PT HTK adalah perusahaan yang mengelola kapal MT Griya Borneo yang sebelumnya memiliki kontrak kerja sama dengan PT Kopindo Cipta Sejahtera (KCS) untuk mengangkutan amoniak dengan jangka waktu lima tahun sejak tahun 2013 sampai 2018.

Namun, kata jaksa, pada tahun 2015, setelah peru­sahaan induk untuk BUMN dalam bidang pupuk di Indo­nesia mendirikan PT Pupuk Indonesia Holding Company (PT PIHC) , kontrak kerjasa­ma PT HTK tersebut diputus. Pengangkutan amoniak dia­lihkan kepada anak perusa­haan PT PIHC yakni PT Pilog dengan menggunakan kapal MT Pupuk Indonesia. Atas pemutusan tersebut, PT HTK merasa keberatan dan masih berkeinginan melanjutkan kontrak kerja sama sehingga terdakwa Asty melakukan berbagai upaya termasuk me­minta bantuan Bowo.

Atas permintaan terdakwa Asty tersebut, Bowo berse­dia membantu dengan syarat mendapat commitment fee sebesar dua dollar AS per met­ric ton dari volume amoniak yang diangkut kapal MT Griya Borneo yang disewa oleh PT Pilog. Namun, Taufik mengatakan commitment fee un­tuk Bowo itu terlalu besar dan menurunkan menjadi 1,5 dolar AS per metric ton. Lalu Bowo menyetujuinya. ola/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment