Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments
PERSPEKTIF

Anggota DPR “Ngemplang” Pajak

Anggota DPR “Ngemplang” Pajak

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Cerita buruk DPR sepertinya nggak ada matinye. Ada saja perilaku buruk anggota legislataif mulai dari hampir setiap waktu tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi karena korupsi sampai ditangkap polisi di jalan. Tidak ada habis-habisnya anggota DPR tertangkap karena korupsi. Cerita negatif kali ini anggota DPR tertangkap polisi lantaran ngemplang pajak kendaraan bermotor.

Tidak tanggung-tanggung, dia menunggak pajak selama dua tahun. Adalah anggota DPR dari Gerindra bernama Kardaya Warnika yang tertangkap basah ngemplang pajak. Anggota Komisi VII DPR itu terjaring razia karena tidak membayar pajak kendaraan bermotor. Dia ditangkap polisi di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur.

Polisi menyita Surat Keterangan Pajak Daerah Pajak Kendaraan Bermotor. Tak pelak, anggota Partai Gerindra itu langsung menjadi bulan-bulanan netizen. Kardaya mengatakan lupa tidak membayar pajak. Alasan ini sangat tidak bermutu, kata netizen. Benar juga, mana ada lupa sampai dua tahun. Biasanya lupa itu beberapa hari, pekan, atau bulan tidak membayar pajak. Kalau dua tahun, namanya bukan lupa, tapi mengemplang, alias tidak mau membayar pajak.

Kalau yang tidak membayar atau menunggak itu rakyat kecil, masuk akal. Sebab kebutuhan mereka banyak, sedang uang terbatas. Tapi yang menunggak ini anggota DPR yang penghasilan bersumber dari mana-mana. Uang sangat berlimpah, kalau hanya untuk membayar pajak kendaraan. Ini jelas tabiat negatif yang memang banyak diperlihatkan anggota legislatif. Kalau terhadap masalah kecil saja tidak tertib, bagaimana mau tertib dengan masalah yang lebih besar?

Padahal, siapa pun yang tidak jujur dalam perkara-perkara kecil, dia juga tidak akan jujur dalam perkara-perkara yang besar. Jadi, barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, dia setia juga dalam perkara-perkara besar. Serangan para netizen sangat tepat. Mereka mengatakan bahwa anggota DPR semacam itu malu-maluin. Dia mencoreng status “terhormat”. Mobil saja dibeli dari uang rakyat. Jadi, mungkin harus rakyat juga yang membayar pajaknya.

Jadi, DPR mesti memperbaiki perilaku. Jangan hanya bersuara keras mengkritik pemerintah, tapi sendirinya berperilaku amat tercela. Mereka jelas dilihat dan dipandang rakyat, tetapi ternyata tidak bisa menjadi teladan. Yang ada, mereka malah memberi contoh buruk. Sudah saatnya anggota DPR benar-benar memperbaiki perilaku karena terus menjadi sorotan.

Jangan sampai rakyat antipati kepada anggota DPR. Padahal segala fasilitas dan gaji dibayar dari keringat rakyat jelata yang diperas agar membayar pajak. Dari pajak rakyat jelata inilah DPR bisa naik mobil, tinggal di rumah dinas bagus gratis, jalan-jalan ke luar negeri dengan dalih studi banding, gaji besar, fasilitas lengkap, dan seterusnya.

Anehnya, anggota DPR itu terus saja berperilaku tidak (seperti) “yang terhormat”. Malah banyak perilaku tercela. Rakyat sungguh mendamba ada anggota DPR yang bisa hidup rendah hati, sederhana, bekerja serius, dan berperilaku bagus. Adakah anggota DPR seperti itu? Anehnya, tidak mudah menemukan yang seperti itu. Ini kan lucu, sebab harusnya sangat mudah menemukan anggota DPR yang sederhana, rendah hati, dan berperilaku baik. Sebab semua kebutuhan dicukupi dari keringat rakyat.

Semua memang kembali ke hati nurani. Andai anggota-anggota DPR itu sering merenung, berdoa sungguh-sungguh, dan mendengarkan suara hati, akan banyak anggota legislatif yang baik. Tapi kalau mereka tidak pernah merenung, berdoa hanya lamis (nyatanya banyak yang korupsi), dan tidak pernah mendengarkan suara hati, jadinya ya penipu semua. Mereka korup, menghambur-hamburkan uang rakyat dan berperilaku tidak terpuji.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment