Koran Jakarta | April 26 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - HCI Rendah, Indonesia Cuma Jadi Basis Investasi Perakitan

Anggaran “Human Capital” Perlu Ditingkatkan

Anggaran “Human Capital” Perlu Ditingkatkan

Foto : Sumber: Sensus BPS 2010 – Litbang KJ/and - koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
Indeks Modal Manusia menentukan daya saing negara dalam perdagangan bebas dan globalisasi ekonomi dunia.

 

JAKARTA - Pemerintah semestinya mem­prioritaskan peningkatan anggaran pendidikan dan kesehatan guna memacu kenaikan Human Capital Index (HCI) atau Indeks Modal Manu­sia Indonesia yang tertinggal dengan negara lain, seperti negara ASEAN.

Menurut data Bank Dunia, saat ini HCI In­donesia berada di peringkat 87 dari 157 ne­gara. Posisi RI itu lebih rendah dibandingkan dengan Singapura (peringkat 1), Vietnam (48), Malaysia (55), dan Thailand (65). Peringkat In­donesia hanya lebih tinggi dari Kamboja (99).

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, menge­mukakan kunci untuk meningkatkan HCI ter­letak pada realokasi anggaran pendidikan yang sudah mencapai 20 persen dari APBN. Namun, hasilnya ternyata masih minim.

Selain itu, realokasi anggaran juga perlu di­lakukan dari sisi belanja pemerintah pusat yang saat ini habis untuk belanja barang dan belanja pegawai. Perekrutan Pegawai Negeri Sipil be­sar-besaran plus kenaikan gaji itu masuknya ke belanja konsumtif, tidak berpengaruh ke HDI. “Jadi pemerintah ayolah sadar, anggaran di APBN bisa dialokasikan ke sektor yang berhu­bungan dengan sumber daya manusia (SDM),” kata Bhima, di Jakarta, Jumat (11/1).

Menurut dia, Indonesia juga butuh lebih ba­nyak anggaran untuk mengurangi jumlah anak gizi buruk berkurang. Saat ini, 30,8 persen bayi di Indonesia menderita stunting. “Jadi, peme­rintah fokus saja kurangi utang dan belanja im­por konsumtif. Dorong efektivitas belanja ne­gara ke pemenuhan gizi dan pendidikan anak bangsa,” tukas Bima.

Sebelumnya dikabarkan, daya saing negara dalam perdagangan bebas dan globalisasi eko­nomi dunia, ditentukan oleh HCI yang berasal dari kemampuan masyarakat satu negara un­tuk menciptakan produk barang dan jasa yang bernilai tambah tinggi.

Direktur Eksekutif Indonesia for Global Jus­tice (IGJ), Rachma Hartanti, mengungkapkan saat ini Indonesia terlihat sangat terbelakang pada aspek kapasitas manusia atau talent dalam menghadapi persaingan dunia yang terkait lang­sung dengan daya saing inovasi dan pertumbuh­an yang berkualitas menghadapi abad ke-21.

“Sedangkan kunci dari kenaikan HCI terkait langsung dengan pertumbuhan yang produktif dan berkualitas dari sektor riil,” papar dia, Ka­mis (10/1).

Oleh karena itu, lanjut dia, dengan keber­gantungan yang tinggi pada impor pangan dan produk konsumsi bernilai tambah (added value product), sedangkan ekspor mayoritas komoditas barang mentah, maka jelas Indonesia akan mem­bentuk perangkap diri pada kondisi ekonomi sus­tainable low income trap atau jebakan negara berpendapatan rendah secara berkelanjutan.

Rachma juga mengatakan banyak perusa­haan multinasional memilih Singapura, Hong Kong, atau negara ASEAN lain sebagai basis manufaktur bernilai tambah lebih karena HCI yang lebih tinggi, walaupun dibebani oleh ke­terbatasan lahan dan biaya hidup yang tinggi. “Negara dengan HCI rendah hanya memper­oleh basis investasi lokasi perakitan, demi me­ngurangi tarif impor komponen nilai lebih se­bagai bahan baku mereka,” kata dia.

Defisit Modal Manusia

Ekonom Indef, Ahmad Heri Firdaus, me­nambahkan kunci untuk meningkatkan daya saing adalah produktivitas, terutama tenaga kerja Indonesia. “Untuk meningkatkan pro­duktivitas itu harus dimulai dari pendidikan yang tinggi,” jelas dia.

Akan tetapi, saat ini sebanyak 60 persen tenaga kerja Indonesia lulusan SLTP ke bawah. Hal ini menyebabkan keterbatasan skill. Ironisnya, pe­ran mereka akan tergusur apabila terjadi disrupsi teknologi. “Jadi, mau mobilisasi di dunia kerja susah. Meskipun mereka bisa bekerja di industri manufaktur atau padat karya tapi yang dikerjakan itu-itu saja, karena skill-nya terbatas,” kata dia.

Sementara itu, Bank Dunia menilai Indone­sia telah mengalami pelemahan investasi di bi­dang SDM selama beberapa dekade. Meskipun Indonesia sudah meraih kemajuan besar dalam beberapa tahun terakhir, namun masih ada de­fisit modal manusia akibat terakumulasinya ke­kurangan investasi selama beberapa dekade lalu.

Untuk itu, masih ada ruang terbuka bagi pemerintah Indonesia untuk meningkatkan investasi secara signifikan dan menjalankan dengan tepat sasaran agar kesehatan, pendi­dikan, keterampilan, dan peluang generasi muda menjadi lebih baik.

Berdasarkan nilai indeks yang diperoleh In­donesia, Bank Dunia mengungkapkan anak-anak Indonesia saat ini akan masuk ke usia 20 tahun dengan hanya 55 persen tingkat kesehatan dan pendidikan penuh. Yang patut digarisbawa­hi adalah produk domestik bruto (PDB) Indone­sia di masa depan hanya 55 persen dari potensi seharusnya yang dapat dicapai bila anak-anak Indonesia mendapatkan kesehatan dan pendi­dikan secara penuh. ahm/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment