Koran Jakarta | August 19 2018
No Comments
Kinerja Ekonomi

Ancaman Deindustrialisasi Kian Nyata

Ancaman Deindustrialisasi Kian Nyata

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Ancaman terjadinya deindustrialisasi atau menurunnya peran industri dalam perekonomian Indonesia dinilai semakin nyata.

Fenomena deindustrialisasi patut diwaspadai karena tidak hanya berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga bakal memperlebar kesenjangan kesejahteraan rakyat.


Peneliti ekonomi Indef, Andry Satrio Nugroho, membenarkan bahwa ancaman deindustrialisasi kian nyata.

Menurut dia, hal itu terbaca dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru yang mengungkapkan bahwa kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) semakin kecil. Pada kuartal I-2000 kontribusinya sebesar 23,3 persen, dan pada kuartal II-2018 menjadi 19,83 persen.


“Benar. Jadi, Indonesia sendiri saat ini tengah mengalami tantangan dalam menghadapi deindustrialisasi. Ini tentu berbahaya karena industri menyerap tenaga kerja lebih banyak dari sektor jasa,” kata Andry, di Jakarta, Kamis (9/8).


Pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya Malang, Adi Susilo, menambahkan fenomena deindustrialisasi patut diwaspadai mengingat dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan, namun akan meningkatkan kesenjangan ekonomi yang sekarang sudah lebar.


“Berdasarkan data, tidak hanya menunjukkan menurunnya peranan sektor industri dalam PDB. Tapi yang harus diwaspadai adalah dampak berantainya pada angka pengangguran karena industri manufaktur merupakan andalan dalam menyerap tenaga kerja, tidak seperti jasa yang lebih terbatas,” kata dia.


Menurut Adi, tren deindustrialisasi yang berlangsung akan mengakibatkan angka kemiskinan dan pengangguran baru, karena jumlah penduduk terus tumbuh. Artinya, jumlah yang tidak terserap lapangan kerja juga terus bertambah sehingga memperparah tingkat kesenjangan yang sudah ada.


“Pemerintah perlu membenahi paket kebijakan untuk sektor industri, salah satunya mendorong substitusi penggunaan bahan baku dalam negeri, kalau yang tidak bisa disubstitusi kita memang tetap harus impor,” papar dia.


Sektor Pertanian


Andry juga mengungkapkan sektor jasa saat ini tumbuh lebih cepat daripada sektor industri. Sayangnya, kebijakan pemerintah saat ini masih belum cukup mumpuni dalam melakukan reindustrialisasi. Gejala deindustrialisasi yang semakin terasa menandakan kebijakan industri jangka panjang tidak hadir menyelesaikannya.


“Sektor industri masih diberikan insentif fiskal yang tidak terlalu memberikan dampak dan peminatnya tidak terlalu banyak, seperti tax holiday. Padahal, saat ini para pemain industri menginginkan kestabilan ekonomi dan ketersediaan serta murahnya bahan baku,” tukas dia.


Menurut Andry, untuk saat ini pemerintah memang harus mendorong pertumbuhan industri. Dia mencontohkan sebetulnya ada potensi integrasi antardesa dengan menghadirkan industri terpadu desa.

Desa-desa yang masih banyak mengandalkan sektor pertanian perlu diimbangi dengan industri pengolahan hasil tani. ahm/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment