Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
Perlindungan Anak

Anak Kecanduan Gawai Mudah Mengamuk

Anak Kecanduan Gawai Mudah Mengamuk

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Anak yang ke­canduan bermain gawai atau gadget dapat menyebabkan mudah mengamuk atau tan­trum dan hiperaktif. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia se­pakat menyatakan kecanduan gawai adalah suatu penyakit.

“KPAI sudah pernah men­dapat pasien kecanduan gawai dirawat di rumah sakit. Ka­rena begitu kecanduan dengan gawai, ketika tidak ada gawai langsung tantrum, menga­muk,” kata Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sitti Hikmawatty da­lam acara diskusi “Kemitraan dalam Upaya Melindungi Hak Anak dan Remaja” dalam per­ingatan Hari Ulang Tahun ke-65 Ikatan Dokter Anak Indo­nesia (IDAI), di Jakarta, Rabu (19/6).

Dia menuturkan ketika dipi­sahkan dari gawainya, anak yang kecanduan gawai itu mengamuk luar biasa, bahkan sampai mengatakan benci ke­pada ibunya dan hendak mem­bunuhnya jika dipisahkan dari gawai.

Dalam kesempatan itu, Sitti juga mengatakan banyak predator yang siap memangsa anak-anak lewat interaksi di gawai, termasuk bahaya dari pelaku pedofilia dan kekerasan seksual.

Dia menuturkan pelaku pe­dofilia dengan intens mengin­car korban dalam jangka waktu tertentu misalnya, enam bulan sampai satu tahun. Ketika ibu lengah atau sedang memasak di dapur, ibu tidak tahu bahwa meskipun anak berada di ru­mah, namun anaknya ternyata sedang berbicara dengan orang asing lewat gawai, yang ber­usaha menjebak anak dalam kasus pelecehan seksual.

Ada juga kasus di mana anak mengalami kekerasan seksual oleh orang yang dia kenal le­wat media sosial saat mereka bertemu di di dunia nyata. “Ba­nyak kemungkinan yang bisa menyebabkan anak terjebak dalam kekerasan seksual. Un­tuk itu, anak-anak harus dipan­tau saat menggunakan gawai,” katanya.

Dokter Spesialis Anak, Meita Dhamayanti, mengata­kan perlu pengendalian, pem­batasan dan pengawasan bagi anak-anak saat bermain gawai.Banyak penelitian yang me­nunjukkan adiksi gawai ber­dampak buruk bagi psikososial anak.

Dia mengatakan anak yang terkena adiksi gawai, 30 persen mempunyai risiko lebih tinggi terkena masalah mental dan sosial.

Anak-anak yang lebih ba­nyak bermain gawai akan me­miliki waktu interaksi dengan lingkungan yang berkurang se­hingga perkembangan hubung­an sosial dan emosional anak tidak berkembang optimal.

Lindungi Hak Anak

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Aman B Pulungan menekankan per­lunya kemitraan kokoh untuk sinergi antara pemangku ke­pentingan dalam upaya melin­dungi hak anak dan remaja.

“Untuk menjamin adanya perlindungan yang kuat ter­hadap hak anak dan remaja, diperlukan suatu kemitraan diantara berbagai pemangku kepentingan yang mendukung dan menciptakan lingkungan sosial, sekolah, tempat ber­main dan tempat bersosialisasi yang ramah anak,” kata Aman.

Berdasarkan Undang-un­dang Nomor 35 Tahun 2014, perlindungan anak adalah se­luruh kegiatan untuk menja­min dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat ke­manusiaan.

Untuk memastikan tumbuh kembang anak yang optimal, perlindungan terhadap hak anak perlu digencarkan sejak dini. Anak yang terlindungi haknya dan bertumbuh serta berkembang dengan baik akan menjadi sumber daya manu­sia yang berkualitas yang dapat berkontribusi positif bagi pem­bangunan Indonesia.

gma/Ant/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment