Koran Jakarta | December 15 2017
1 Comment

Anak-anak Muda Semarang Terus Gelorakan Toleransi

Anak-anak Muda Semarang Terus Gelorakan Toleransi

Foto : KORAN JAKARTA ARTA /HENR I PEL UPESSY
M elawan Radikalisme I Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloys Budi Purnomo (kiri) pada acara Srawung Orang Muda Lintas Agama, di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (5/3).
A   A   A   Pengaturan Font

Halaman Balai Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu (5/3) tampak sangat ramai disesaki oleh mayoritas anak-anak muda. Ribuan anak muda lintas agama tampak bersemangat mengikuti acara Srawung Orang Muda Lintas Agama.

Acara yang diikuti sedikitnya 71 komunitas ini juga ditandai selebrasi seni budaya lintas agama dan donor darah. Itu belum termasuk para tamu yang hadir spontan tanpa mendaftar. Di penghujung acara, meski hujan mengguyur deras, para peserta tetap semangat menyerukan deklarasi yang telah mereka sepakati.

Deklarasi itu sebagai bagian dari acara yang diselenggarakan bersama sejumlah pihak. Kolaborasi penyelenggara acara ini adalah Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Universitas Islam Sultan Agung (Unisula) Semarang, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang.

Acara yang kepanitaannya diketuai Lukas Awi Tristanto tersebut disambut baik Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, mengatakan kalau tidak bisa dan mau menerima keberagaman dan perbedaan, silakan pergi dari Indonesia.

Hadir pula sejumlah tokoh agama yang memberi refleksi dan orasi. Mereka, antara lain Gus Ubaidillah Achmad, Romo Aloys Budi Purnomo, Tjahjadi Nugroho, Pandita Warto, Andi Tjiok, I Nengah, dan Sumarwanto yang juga memberikan orasi edukasi keberagaman bersama penyair budayawan Joko Pinurbo. Tak ketinggalan, Heidy Ibrahim, vokalis Power Slaves pun berkolaborasi dengan Romo Aloys Budi Purnomo dan para penari sufi dari Al-Islah Tembalang.

Serukan Deklarasi

Ribuan orang yang hadir menyerukan deklarasi orang muda lintas agama Semarang untuk Indonesia. Paling tidak ada empat tekad yang ingin digelorakan anak-anak muda Semarang ini. Pertama, mengembangkan sikap hidup inklusif, inovatif, transformaif serta melawan setiap bentuk radikalisme dan intoleransi di muka bumi ini. Kedua, mencintai dan menciptakan kerukunan dalam keberagaman untuk mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman apa pun agama yang dipeluk.

Ketiga, berjuang dengan siapa saja untuk terus membangun persaudaraan dan persahabatan sejati. Keempat, menjaga dan menegakkan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Deklarasi orang muda lintas agama Semarang untuk Indonesia ini diharapkan bergema dan berbuah nyata. Romo Aloys Budi mengatakan dari acara ini ingin dibangun silaturahmi lintas agama, meneguhkan semangat kebangsaan, dan mempromosikan nilai persaudaraan. Acara ini menjadi pintu masuk kegiatan kaum muda lain di empat kota, yaitu Semarang, Magelang, Yogyakarta, dan Solo.

Diharapkan kaum muda mampu mewujudkan peradaban kasih dan moralitas kerukunan dengan cara kaum muda. Lewat kegiatan ini ingin ditanamkan kebangsaan dan kerukunan dalam bingkai Pancasila dan NKRI. “Tidak ada agama yang mengajarkan kebencian. Kedamaian ini harus diwujudkan dalam kehidupan nyata,” terang Romo Budi.

KH Ubaidillah Achmad menyampaikan akan terus menyuarakan toleransi, keberagaman, dan Bhinneka Tunggal Ika apa pun risikonya. n henri pelupessy/N-3

View Comments

Maskurun Mulyosukarto
Kamis 9/3/2017 | 12:16
Yang tua ternyata harus belajar dari anak-anak muda yang sangat menyadari kebhinekaan. Kalau masalah kesejahteraan, harus diakui oleh kita bahwa warga Tionghoa itu memang ulet dalam berusaha/berbisnis, asalah tidak menghalalkan segala cara. Mungkin DNA bangsa Tionghoa itu DAGANG. Diman-mana di kota besar dunia ada China Town, ttp tidak ada Indonesia Town atau Arab Town. Bangsa yang ulet berbisnis lainnya adalah INDIA. Inis emua harus diakui dan JANGAN SOK IRI....DIKIT DIKIT NGELUH.....HAL INI PENTING DISAMPAIKAN SECARA LUGAS DAN JELAS, KRN SEPERTINYA ADA KETIDAK HARMONISAN KEHIDUPAN BERMASYARAKAT TERUTAMA DI DKI KARENA PAK AHOK MENCALONKAN DIRI SBG GUBERNUR. MAAF INI BUKAN PILKADA...YANG BOBOT POLITIKNYA KENTAL, TETAPI INI PLKADA-GA....PILKADA YANG LEBIH BERAT KEPADA PENGANUT AGAMA, SAMPAI DISPANDUK ADA DISEBUT BAGI WARGA YANG MENDUKUNG KATAKAN AHOK, KALAU MATI NGGAK AKAN DISHOLATKAN. INI KAN AJARAN "GENDENG" NAMANYA. MALAH BISA DIBILANG NGGAK NGERTI AGAMA.
PILKADA DKI KALI INI....SANGAT TEDAK SEHAT , TIDAK RASIONAL, DAN TIDAK PANTAS DIPERTONTONKAN KEPADA DUNIA (ADA DUTA BESAR LHO DI DKI). INGAT PULA PAK ANIES ITU JUGA WARGA ARAB TETAPI SDH MEMBAUR SEBAGAI ORANG JOGJA. SARAN SAYA KAMPANYE YANG BAIK, BERI PELAJARAN YANG BAIK BUKAN TIPU-2. SIAPA YANG MENANG HARUS MEWUJUDKAN JANJINYA, DAN JIKA TIDAK DOSA JUGA LHO MENURUT AGAMA YANG DIANUT, BAIK PAK ANIES ATAU PAK AHOK. JADI SEKALI LAGI INI PILKADA KRN LATAR BELAKANG AGAMA BUKAN KRN POLITI UTK ADU IDEA & PROGRAM YANG REALISTIS, WORKABLE, ACHIEVABLE. SEMOGA DLM 40 KEDEPAN AKAN SEMAKIN SEHATA KAMPANYENYA.

Submit a Comment