Amerika Serikat Tuding Huawei Curi Rahasia Dagang Kompetitor | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Persaingan Dagang

Amerika Serikat Tuding Huawei Curi Rahasia Dagang Kompetitor

Amerika Serikat Tuding Huawei Curi Rahasia Dagang Kompetitor

Foto : AFP/ DON MACKINNO
A   A   A   Pengaturan Font

NEW YORK – Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) menambahkan dak­waan pidana baru terhadap perusahaan raksasa teknolo­gi Tiongkok, Huawei, dan dua anak perusahaannya di AS. Perusahaan itu dituduh berencana mencuri rahasia dagang para pesaingnya di Amerika Serikat.

“Surat dakwaan tersebut menggambarkan potret yang memberatkan dari sebuah organisasi tidak resmi yang tidak memedulikan hukum,” kata Ketua Komite Intelijen Senat AS, Richard Burr, dan Wakil Ketua, Mark Warner, dalam sebuah pernyataan bersama, Kamis (13/2) waktu setempat.

Dakwaan baru, yang menggantikan satu dakwaan tahun lalu, diajukan di Pengadilan Federal di Brooklyn, New York, Kamis (13/2) waktu se­tempat. AS menuntut Huawei karena berkonspirasi mencuri rahasia dagang dari enam perusahaan teknologi AS dan melanggar Racketeer Influenced and Corrupt Organiza­tions Act (RICO).

Huawei juga dituduh me­masang peralatan pengintai yang memungkinkan Iran memata-matai demonstran dalam demonstrasi anti-pemerintah tahun 2009 di Iran, dan melakukan bisnis di Korea Utara meskipun AS memberlakukan sanksi terha­dap negara itu.

Dakwaan baru itu mun­cul setelah Presiden Donald Trump menyatakan produk-produk Huawei dapat men­jadi ancaman keamanan nasional.

Pemerintah AS pun gen­car melobi sekutu-sekutunya, terutama di Barat, untuk me­larang penggunaan peralatan nir-kabel Huawei untuk jar­ingan internet. Dakwaan itu menambah jeratan hukum Huawei di AS.

Sebelumnya, Amerika juga pernah menuduh CFO dan putri pendiri Huawei, Meng Wanzhou, berkonspirasi un­tuk menipu HSBC dan bank lain. Meng Wanzhou juga dituduh melanggar sanksi ter­hadap Iran, dan menghalangi keadilan.

Meng Wanzhou, ditang­kap pada Desember 2018 di Kanada atas tuduhan dalam dakwaan itu. Namun, dia mengatakan dirinya tidak ber­salah dan berjuang melawan ekstradisi.

CFO dan putri pendiri Huawei, Meng Wanzhou, dituduh memberikan per­nyataan palsu kepada bank tentang hubungan Hua­wei dengan Iran. Saat ini, ia tengah menjadi tahanan rumah di Vancouver, British Columbia, dan belum diekstradisi ke AS.

Jaksa mengatakan dalam beberapa kondisi, Huawei merekrut pegawai kompeti­tor untuk mencuri kekayaan intelektual. Perusahaan itu juga dituduh memberikan bo­nus pada karyawannya send­iri yang mampu memberikan informasi curian yang paling berguna.

Perusahaan itu juga meng­gunakan proxy (kaki tangan), termasuk profesor di lemba­ga penelitian, untuk mencuri kekayaan intelektual, kata jaksa.

Tuduhan terbaru ini lang­sung direspons oleh Huawei dengan mendesak AS untuk berhenti menekan perusa­haannya.

“Dakwaan itu merupakan bagian dari upaya merusak reputasi Huawei dan bisnis­nya. Dakwaan tersebut lebih terkait persaingan usaha ketimbang penegakan hu­kum,” ujar juru bicara Huawei. AFP/SB/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment