Koran Jakarta | February 22 2017
No Comments

Ambon: Negeri Berjarak 2 Jam

Ambon: Negeri Berjarak 2 Jam

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Ambon “Manise” ha­nya berjarak dua jam perbedaan waktu dengan Jakarta, bisa didatangi dengan jarak penerbangan 3 sampai 3,5 jam saja. Saya me­makai kata saja, untuk lebih mengesankan bahwa jarak itu tak terlalu jauh, juga tak terla­lu lama. Ambon kini menjadi perhatian karena Presiden Jokowi dan beberapa menteri berdatangan bersama para pemuka media, dan membi­carakan pers dalam rangka Hari Pers Nasional, HPN, yang diselenggarakan setiap tahun di daerah yang berbeda.

Media utama telah meng­ulas HPN, dan saya juga telah menuliskan di rubrik ini, dan menjadi pembicara dalam diskusi. Selalu begitu kegiataan HPN dari tahun ke tahun. Yang membedakan adalah tempat berlangsung­nya. Dan kali ini Ambon yang memang pantas besolekan kata “manise” , sebaiknya juga bahan perbincangan. Hanya berbeda dua jam perbedaan waktu, Ambon mampu mem­berikan gambaran berbeda tentang bangkitnya keruku­nan kembali dari peristiwa berdarah-darah yang parah mengenai “konflik SARA” yang bekas-bekas tempat kejadian masih bisa dilihat dan masih bisa didengar ulang ceritanya. Ambon, barang kali hanya satu pulau dari 1.340 pulau-pulau yang ada di kepulauan Maluku, dengan penduduk 1,8 juta dan angka kemiskinan mencapai sekitar 19 persen. Kabar baiknya juga pen­ting , negeri ini bisa menjadi gudang perikanan nasional. Seluas itu lautnya, sebanyak itu pula ikan-ikan yang meng­giurkan. Di jalanan, ada resto istimewa dengan sajian hasil laut istimewa. Yang sebenar­nya juga tidak terlalu proses­nya. Ikan melimpah, tinggal menangkap, Menghidangkan­nya juga sederhana: cukup dibakar pun bisa. Sudah ten­tu kemampuan memasak, memadukan bumbu, men­jadi haute cuture men­jadikan kuliner yang tak kalah dengan dae­rah lain yang lebih popular. Ambon, dan atau Maluku, bisa menambah kuliner ala gudeg, atau rendang, atau soto, atau yang lain. Jarak 2 jam waktu adalah jarak yang mungkin segera dicapai.

Terutama karena berkah kerukunan, tersa­dari juga di kalangan masya­rakat bawah. Di akar rumput ini terdengar rumusan bahwa “dalam bertikai, semua pihak sebenarnya kalah” dan saat seperti itu makan pun susah. Maka kini masa-masa damai pantas dinikmati dan disyu­kuri. Untuk meningkatkan diri dalam segala. Termasuk misalnya proyek memperba­nyak kapal roro, roll on roll off, yang wara-wiri menghubung­kan daerah-daerah yang sa­ngat memerlukan hubungan dalam arti yang sebenar-be­narnya. Di dalam kota ketika kelilingan, pengemudi yang membawa mengatakan alasan kenapa sering membunykan klakson. “Pelat hitam di sini banyak yang tuli. Plat kuning telinganya peka.” Ini bahasa ‘masbro’—untuk menyebut­kan kata ganti kamu atau dia, untuk mengatakan bahwa mobil plat hitam lebih me­milih jalan di tengah dan pelan dan tak bereaksi saat di klakson. Sementara angkutan umum lebih sopan—apa lagi dibandingkan Jakarta misal­nya. Selain infrastruktur yang menjadi keharusan, pende­katan lain bisa disertakan. Bersama “mbah’ Sujiwa Tejo, saya kemukakan Ambon bisa dikembangkan sebagai ikon yang dimaui, sebagai kota musik. Mungkin seperti New Orleans, yang setiap pojoknya ada pentas musik.Ditambah kuliner dan juga kekhaskan makanan serba sagu, keuni­kan ini tak tersamai. Di negeri raja-raja ini lebih menga­gumkan dari yang bisa dilihat saat ini. Berilan kesempatan mata lain untuk melihat dan mencermat, niscaya akan menemukan yang tak disadari sebagai sesuatu yang istime­wa. Termasuk pengucapan berulang “lupa-lupa’, atau jenis sambal “colo-colo”, atau kisah-kisah men­takjubkan pulau pulau sekitarnya.

Ambon tak se­kadar manise. Ia juga “ngemeske”, mengemaskan. Untuk dibenahi, untuk disayang, untuk menemu­kan desain khas. Dan perhatian mela­lui HPN hanyalah salah satu pendekatan, sebagai pemulaan. Karena Ambon bukan kuburan proyek – pro­yek mangkrak. Ambon dalam Maluku adalah jarak dua jam berbeda waktu, yang lebih dulu menyambut matahari, membuktikan kebersamaan sebagai bangsa, kesadaran untuk rukun kembali, untuk menepis krisis.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment