Koran Jakarta | December 18 2018
No Comments
Lingkungan Hidup

Al Gore Puji Restorasi Gambut Indonesia

Al Gore Puji Restorasi Gambut Indonesia

Foto : ANTARA/Saptono
A   A   A   Pengaturan Font

BONN – Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Albert Arnold Gore Jr (Al Gore), mengapresiasi upaya penyelesaian persoalan hutan dan lahan gambut yang menjadi komitmen pemerintah Indonesia sebagai bagian dari upaya mengendalikan emisi gas rumah kaca (GRK).


“Indonesia jelas merupakan salah satu negara penting di dunia, negara yang juga sama seperti negara saya yang juga terdampak perubahan iklim dari peningkatan muka air laut, badai yang semakin kuat, kerusakan subsistem agrikultur dan banyak lagi,” katanya di Pavilun Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP) 23 di Bonn, Jerman, pekan lalu (10/11).


Gore menambahkan harus ada komitmen pemerintah Indonesia untuk menggunakan energi terbarukan dan terutama perhatian dalam menyelesaikan persoalan hutan dan lahan gambut yang telah terkonversi menjadi perkebunan sawit.


“Pemerintah Indonesia mengambil upaya untuk membenahi itu. Saya senang bisa melanjutkan kerja sama dengan para Climate Leader dan individual di pemerintahan di Indonesia untuk memecahkan persoalan perubahan iklim karena persoalan yang dihadapi Indonesia lumayan berat,” katanya.


Pada kesempatan itu, Al Gore mengungkapkan sudah membujuk Presiden Donald Trump untuk mundur dari upayanya merombak kebijakan penghentian pemanasan global. Al Gore pun yakin AS akan meraih kembali posisi kepemimpinannya dalam bidang penyelesaian masalah perubahan iklim jika Trump dikalahkan dalam pemilu presiden periode berikutnya.


Kejar Target


Sementara itu, Ketua Kelompok Ahli Badan Restorasi Gambut (BRG), Azwar Maas, mengatakan semua pihak harus bergerak cepat untuk mencapai target pengairan atau rewetting dan revegetasi lahan gambut seluas 2,4 juta hektare di empat kabupaten, yakni Tebing Tinggi di Kabupaten Meranti, Ogan Kemiring Ilir, dan Musi Banyuasin di Sumatera Selatan, serta Pulang Pisau di Kalimantan Tengah.


Azwar mengatakan saat ini memang sudah dikerjakan rewetting yang dilakukan perusahaan di empat daerah tersebut. Tapi, hal itu sifatnya belum terstruktur dan tidak berdasar peta ketebalan gambut serta peta yang dibuat oleh Light Detection and Ranging (Lidar).

“Ada kesadaran dari perusahaan untuk memulai rewetting. Namun, yang diperlukan adalah rencana detail aksi hasil dari kesepakatan antara KLHK, BRG, dan perusahaan segera selesai, dan segera bisa dieksekusi,” katanya. Ant/Rtr/YK/uci/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment