Aktivis 98: Rapor Pemberantasan KKN dan Penegakan Hukum Nilainya C- | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments

Aktivis 98: Rapor Pemberantasan KKN dan Penegakan Hukum Nilainya C-

Aktivis 98: Rapor Pemberantasan KKN dan Penegakan Hukum Nilainya C-

Foto : Dok Iluni UI
Ikatan Alumni UI menggelar diskusi daring membahas 22 Tahun Reformasi, Jumat (22/5)
A   A   A   Pengaturan Font

Aktivis 98: Rapor Pemberantasan KKN dan Penegakan Hukum Nilainya C-

 

Jakarta-Aktivis 98, sekaligus mantan Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI Herzaky Mahendra Putra menilai rapor untuk pemberantasan KKN dan penegakkan hukum saat ini masih mendapat nilai C-.

 

Hal ini disampaikannya dalam diskusi virtual bertajuk Refleksi 22 Tahun Demokrasi: Dulu, Sekarang, dan Masa Depan yang diselenggarakan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI), Jumat (22/5) sebagaimana rilis yang diterima Koran Jakarta, Sabtu (23/5)

 

Herzaky memaparkan ada dua inti dari enam hal yang menjadi tuntutan reformasi pada tahun 1998. “Ada dua poin agak berat padahal ini core of the core. Pemberantasan KKN dan supremasi hukum. Nilainya C, hampir nggak lulus,” tukas dia.

 

Seperti yang diketahui, mahasiswa menyuarakan enam tuntutan yang menjadi agenda reformasi pada tahun 1998. Keenam tuntutan tersebut terdiri dari penegakkan supremasi hukum, pemberantasan KKN, pengadilan Soeharto dan kroni-kroninya, amandemen konstitusi, pencabutan dwifungsi ABRI (TNI dan Polri), dan pemberian otonomi daerah seluas-luasnya.

 

Dari enam tuntutan tersebut, Herzaky mengungkapkan bahwa keberadaan KPK sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi sempat memberikan harapan besar. Tapi, kini ia melihat harapan itu mulai meredup melihat berbagai realita yang ada.

 

Aktivis yang juga menjabat sebagai penggiat HMI ini menilai pemberantasan KKN dan penegakkan hukum masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia mengatakan perlu adanya perbaikan secara institusional untuk berbagai penegak hukum yang ada. Keberanian para pimpinan institusinya menolak intervensi kekuasaan pun diperlukan, sehingga tidak membawa Indonesia kembali ke orde baru.

 

Berdasarkan penilaian sebuah lembaga pemantau demokrasi internasional bernama Freedom House, indeks demokrasi indonesia dinyatakan mengalami kemunduran.

 

“Sejak tahun 2014—2019, Freedom House menyebutkan Indonesia kembali menjadi negara partly free. Nilainya terus menurun sejak 2017. Perhatian utamanya adalah kebebasan sipil,” kata Herzaky. 

 

Dia mengingatkan bahwa masyarakat sipil memiliki tanggung jawab besar untuk mengawal amanat reformasi.  Oleh Karena itu, diperlukan keberanian untuk tetap kritis di tengah maraknya pembungkaman.

 

“Boleh berbeda platform gerakan, tetapi harus bersatu untuk Indonesia yang lebih baik,” tukasnya.  Lebih lanjut, Herzaky mengimbau mahasiswa mesti mengingat, tugas mereka bukan hanya di bidang pendidikan, melainkan juga di penelitian dan pengabdian masyarakat seperti yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

Dari enam tuntutan reformasi lainnya, Herzaky kemudian menilai setidaknya ada dua hal yang telah berhasil dilaksanakan yakni amandemen konstitusi dan pencabutan dwifungsi ABRI.Gerakan reformasi dan perjuangan aktivis yang berada di parlemen melahirkan pilpres langsung. ”Itu harus kita jaga. Jangan sampai tergoda yang ingin mengembalikan pilpres melalui MPR. Nilainya A+,” imbuh dia.

 

Pertahankan Kebebasan Pers

 

Menyoroti reformasi 98, Aktivis 98 Indra Jaya Piliang menyatakan bahwa kebebasan pers sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. ”Om Cak Nur mengatakan bahwa yang paling genuine dari 98 yang bisa diraih dan dipertahankan adalah kebebasan pers,” ungkap Indra. Itu satu-satunya yang masih tersisa karena partai politik dianggap sudah dimasuki oleh anggaran duit.

 

Mantan penggiat KSM UI ini menambahkan bahwa parpol seharusnya independen secara keuangan. Partai-partai seharusnya harus dihidupkan oleh anggotanya sendiri.

 

”Orang masuk partai bukan cari uang, tapi justru menyumbang. Justru saat ini anggaran itu dibebankan ke negara,” kata dia.

 

Indra pun menilai, demokrasi semakin lama dilhat berdasarkan kuantitatif. ”Demokrasi dinilai dari jumlah vote dan lain-lain. Sementara reformasi 98 bukan pada vote, tapi pada kualitatif, pada kualitas yang diperjuangkan,” imbuhnya.

 

Sementara itu, Aktivis 98 sekaligus aktivis Keluarga Besar UI (KB UI) Ikravany Hilman berpendapat masih ada ruang membangun bangsa yang terus-menerus. Ia juga membuat perbandingan mahasiswa angkatan 98 dengan mahasiswa saat ini. Aktivis 98 tersebut mengungkap bahwa situasi mahasiswa saat itu dan saat ini sebenarnya hampir sama.

 

”Tantangan mahasiswa 80-90an dengan hari ini sama saja. Mungkin karena nature kelas menengah masuk kampus seperti itu. Jaman dulu ada ada juga tarik-menarik orang yang nonton JGTC dan turun aksi,” ungkapnya.

 

Ikra melanjutkan, pada era 98 hampir semua mahasiswa yang tergerak karena hasil sebuah proses. ”Jadi, tidak perlu juga mahasiswa hari ini harus terobsesi untuk bergerak bersama. Jika bersama jadi satu persyaratan, nanti tidak bergerak-bergerak,” kata dia.

 

Pada tahun 80-90-an, mahasiswa bergerak melalui berbagai elemen seperti di kelompok studi, di organisasi intra seperti HMI, dan kelompok kecil lainnya. Mahasiswa yang bergerak saat itu dianggap asing oleh sebagian mahasiswa. Ketika momen politik muncul, mahasiswa yang terbiasa bergerak di aktivis ini pun menjadi pemimpin.

 

”Situasi pada saat itu di UI ada organisasi formal, ada yang nonformal. Itu yang menjadi warna dari gerakan kemahasiswaan saat itu,” ujarnya

 

”Apa yang harus dilakukan mahasiswa hari ini? Saya tidak mau meletakkan model 90-an kepada mahasiswa hari ini. Waktu itu kita berhadapan dengan otoritarianisme, yang berdiskusi seperti ini saja bisa hilang,” imbuh Ikra.

 

Lebih lanjut, Ikra menilai bahwa demokrasi hari ini belum cukup baik. Dia menganggap demokrasi adalah ruang pertarungan yang harus terus menurus diperjuangkan. Demokrasi dinilai sebagai sesuatu yang tidak bisa disia-siakan.

 

”Harusnya ada kebebasan berekspresi, berpendapat. Ini tantangan kita hari ini. Saya tidak bilang hari ini lebih mudah, bisa jadi hari ini lebih sulit dari sebelumnya,” pungkasnya.sur/AR-3

 

 

 

 

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment