Koran Jakarta | April 26 2019
No Comments

Akhir Tahun: Kecemasan

Akhir Tahun: Kecemasan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Saya selalu memilih sikap optimistis, sikap berpengharapan, dalam menghadapi situasi yang dualistis: antara bagus dan tidak bagus. Apalagi itu sebagai rumusan. Rumusan akhir tahun, Seperti sekarang ini.

Namun kali ini, ada bayang-bayang kecemasan yang kental, pekat, dan menjerat sehingga tak mudah melepaskan. Bayang-bayang itu adalah sesuatu yang bisa diperhitungkan, bisa dibuat kajiannya, siap untuk dipersoalkan kelayakannya, yaitu kemungkinan—masih ada kata kemungkinan yang dipergunakan, terjadinya tsunami liar, besar, yang diperkirakan mencapai angka 8,9 dari 10 yang tertinggi dan memusnahkan apa saja yang disambar air laut, atau ketika menyeret kembali ke laut.

Yang parah adalah sekitar Jakarta—di mana kita tinggal ini, dan sebagian dari Bandung Utara. Gempa dasar laut yang terjadi merupakan yang terbesar, bahkan ada angka 9,5 dari skala 10 dari dasar perhitungan berbeda.

Artinya, bisa disamakan dengan tak ada sisa yang terkena tsunami. Lebih mencemaskan karena gempa ini bagian dari selama ini yang kita kenal—juga kita rasakan akibatnya secara tak langsung, di Lombok, Palu, dan terakhir pantai Carita, Jawa Barat. Lempengan bawah laut menemukan pergerakannya yang jika terjadi patahan, amblas ke bawah, akan menghisap air laut, dan ketika tertarik ke atas, akan menghempaskan ke daratan.

Konon, kenyataan yang terjadi lebih seram dari film fiksi sekalipun. Mencemaskan karena yang disodorkan kemungkinan itu berdasarkan data, berdasarkan fakta yang terjadi sebelumnya, atau bahkan sekarang ini dengan data masih hangat.

Gempa juga terjadi di Hawai, Jepang, di atas skala Richter 8. Dan kemungkinan itu bisa terjadi di tanah Jawa. Dan ini semua pernah diutarakan, tapi malah terjadi perselisihan, antara menakut-nakuti atau menteror. Yang mana pun, jelas menimbulkan kecemasan.

Kecemasan yang makin beranak pinak karena dimunculkan peristiwa lain yang seakan bagian dari tsunami raksasa ini. Selama belum ada tangkisan pasti—dan memang tidak ada yang bisa memastikan kapan terjadi atau tidak terjadi kecemasan mempunyai alasan bertambah besar. Memakan ketenangan, memuntahkan rasa tidak tenang. Bahkan dalam menulis rubik ini pun-- biasanya saya kirim hari Kamis atau Jumat— tetap cemas apakah Sabtu, Jakarta dan sekitarnya masih aman.

Berlebihan? Saya pun menyadari, walau tak bisa menghindari. Dan ketika wilayah aman dan nyaman terganggu, ketika itu keadaan tak membaik. Bisa mempengaruhi apa saja: termasuk cara menikmati tidur-kerja-istirahat. Akan selalu ada spekulasi kapan terjadinya, tapi tak ada spekulasi kapan kita melewati bencana dengan baik, dengan selamat. Dalam keadaan seperti ini, dengan sendirinya muncul kekuatan untuk bertahan, untuk menghibur secara massal.

Misal, sebagai umat yang beriman, kita membawa ke dalam doa. Juga siaga. Atau menyiapkan satu tas besar berisi surat-surat penting, sampai dengan senter. Juga waspada. Menyiapkan diri kalau harus mengungsi.

Siapa yang dihubungi, dan sebagainya, dan selanjutnya, dan lain-lainnya. Tapi, tetap berada dalam zona cemas tingkat tinggi. Belum ada penelitian para ahli—dalam maupun luar negeri, lembaga-lembaga resmi yang diakui, atau kesepakatan bahwa bentrok gesekan lempeng bawah tanah itu bisa dihindarkan. Yang ada justru sebaliknya. Berdasarkan perhitungan bla-bla-bla, kemungkinan terjadinya adalah kapan.

Saya tak INGIN larut dalam kubangan kecemasan di akhir tahun ini. Namun nyatanya, itu yang lebih dominan. Saya lebih merasa tak bisa apa-apa, dalam menanggulangi atau mengurangi akibatnya—bahkan hanya untuk mengurangi dari kecemasan. Kadang pikiran saya mentok bahwa orang seperti saya hanya berakhir sebagai korban. Saya tak bisa lari menghindar— seperti sebagian yang lain. Saya tinggal menjalani saja—seperti yang lain, bersama yang lain.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment