Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Ajaran Kristus tentang Menolong Sesama

Ajaran Kristus tentang Menolong Sesama

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Renungan Harian

Penulis : Agustina Wijayani dkk.

Penerbit : Yayasan Gloria

Cetakan : November 2017

Buku ini sengaja diterbitkan bulan November untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan dan juga menyumbang inspriasi agar perjuangan mereka tidak sia-sia dan bisa diteruskan generasi sekarang. Dalam pengantar ada kutipan dua pandangan Proklamator, Bung Karno, tentang perjuangan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Kemudian, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri (hlm iii).”

Para pengikut Kristus terpanggil untuk mengisi kemerdekaan dengan lebih dulu tidak korupsi dalam segala bidang karena akan merusak sendi-sendi kemerdekaan dan kehidupan berbangsa. Tugas lain, memerangi koruptor lewat jalur agama, budaya, dan hukum. Umat Kristiani harus menghargai dan menjaga kebinekaan sebagai anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia yang majemuk. Tugas-tugas ini mesti diperkuat lagi mengingat beberapa kelompok dengan sengaja hendak menghancurkan.

Perang tidak lagi dengan penjajah asing, tapi dengan sesama bangsa. Ini melemahkan kekuatan bangsa yang akan membuka peluang kekuatan asing menjajah Indonesia dengan model kolonialisme modern. Untuk menjaga persatuan harus mengutamakan kebenaran, bukan kepentingan kelompok. Menyadarkan orang lain agar bisa kembali ke jalan yang benar tidak dengan cara mencela dan memarginalkan, tapi mengayomi serta menunjukkan perilaku baik. Kebaikan adalah cahaya. Dengan itu, orang yang berada dalam kesesatan akan mendapat jalan terang dan mendekat ke sumber cahaya tersebut. Itulah ajaran Kristus.

Medeleine L’Engle memiliki gagasan menarik di mana cara efektif menarik orang datang kepada Kristus bukanlah mencela kepercayaan atau menuding kesalahan mereka, tapi memancarkan cahaya yang begitu indah agar mereka dengan segenap hati ingin mengetahui sumber cahaya tersebut. “Adakah cahaya yang lebih indah dari kepedulian kepada sesama,” dia bertanya (hlm 2).

Fakta utama yang acap kali menutupi hati untuk melihat dan mengikuti kebenaran adalah ambisi kepada kekuasaan, materi, dan kehormatan. Ini godaan terbesar yang menyebabkan orang korupsi, curang dalam politik, dan mengorbankan bangsa demi obsesi pribadi. Padahal kegilaan itu akan berujung pada labirin penderitaan. Sekali masuk ke dalamnya, sulit keluar.

Kisah Kur Cobain (1967–1994), vokalis Nirvana, yang menjadi bintang di zamannya membuktikan. Saat itu, dia merupakan bintang paling berpengaruh. Lagunya laris dan menjadi pusat perhatian jutaan penggemar. Awalnya, ketenaran membuatnya bangga. Tumpukan harta menyenangkan. Lambat laun, dia justru menderita dengan itu semua. Di puncak penderitaannya, dia berusaha bunuh diri minum pil hingga overdosis. Dia akhirnya bunuh diri dengan menembak kepalanya.

Kristus mengingatkan kebahagiaan hidup tidak diukur jumlah materi, level popularitas, atau keluasan pengaruh kekuasaan. Hidup sudah dirancang Tuhan sejak kita dilahirkan agar selalu bermanfaat bagi orang lain sebab di situlah sumber kebahagiaan. “Hidup di dunia tidak hanya untuk hawa nafsu dan mendewakan pekerjaan. Semua itu semakin menjauhkan dari Tuhan, “ kata Jacqualina Bunga, salah satu penulis buku ini (hlm 5).

Buku ini didasarkan pada Firman yang termaktub dalam Alkitab. Ditulis beberapa orang dari beragam sudut pandang. Firman yang dikutip dan dielaborasikan memiliki kandungan terkaitan dengan perjuangan, kebaikan, melayani sesama, dan membangun bangsa yang lebih baik. 

Diresensi Faiz, Staf Lembaga An-Najah Karduluk, Madura

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment