Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments

Ahmad Dhani, dan Air Mata, ... Bahagia

Ahmad Dhani, dan Air Mata, ... Bahagia

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Dari pengalaman pribadi, maupun pengalaman orang lain, saya me­mang tak suka pen­jara: bangunannya, kamar yang seram, penghuni dan kehidupan di dalamnya. Maka kalau ada yang masuk penjara, kadang ikut prihatin, membayangkan kejutan yang dialami di hari-hari awal. Ingatan ini muncul dan me­nampar kesadaran, kala Ahmad Dhani, musisi, juga anggota Badan Pemenangan Nasional dari pasangan capres 02 mengalami.

Saya tak suka suasana pen­jara, apalagi kalau dikaitkan dengan “ujaran kebencian”, yang selalu menyertakan kontroversi di dalamnya, baik pasal-pasal atau uraiannya, maupun penggunaannya.

Itu tidak menghalangi Ahmad Dhani, mendekam kali ini. Ini juga tidak menghalangi bagaimana kasus sebenarnya. Yang muncul justru komentar lawan komentar. Misalnya, Fahri Hamzah yang mengatakan bahwa ditahannya AD, ditandai dengan “bangsa ini meneteskan air mata”. Seolah peristiwa derita yang dialami bersama dengan ditahannya AD, seolah AD mewakili duka bangsa ini. Tak ada yang salah dengan hiperbola seperti ini, seperti juga tak salah seseorang yang langsung menimpali: … iya air mata bahagia. Seolah membatalkan duka bangsa menjadi air mata bahagia, justru karena AD ditahan.

Gaya “berbalas pantun” yang tidak santun, yang menuntun ke arah satu pemikiran ini terus berlangsung. Tidak menyoal soal pasal atau kenapa itu diturunkan atau diusulkan dicabut, melainkan komentar “bisa ae” komentar yang bisa saja keluar, yang meloncat dari kasus yang dibicarakan. Menyebutkan “bangsa ini mene­teskan air mata” adalah berlebihan dan mengalihkan makna, maka menimbulkan reaksi yang membalikkan menjadi “air mata bahagia.” Jangan heran jika turunan dari itu berbunyi: “air mata buaya”, atau berlanjut “buaya darat perayu teman tapi mesra”, atau yang semeriah yang bisa dikomentarkan.

Ini ternyata belum selesai. To­koh lain ikut berkomentar bahwa AD itu seperti John Lennon: musisi unggul yang memilih jalan politik. Mudah diduga sulutan ama­rah berbalik. John Lennon bagi pemujanya—atau juga komenta­tor politik adalah tokoh teratas dalam soal musik, juga kecintaan pada perdamaian, dengan segala geraknya. Dikaitkan atau disa­makan dengan AD, membuat fans membelalak, dan sulit menerima. Di sinilah drama pertengkaran berlanjut. Sebagaimana ketika Sandiaga Uno disamakan dengan proklamator Moh. Hatta, yang muncul justru penelanjangan atas “ketidaksamaan”, justru perbedaan “langit dengan bumi.”

Ini yang tengah terjadi: segala apa dikomen dan berbalas pantun dengan komen dengan melupakan pokok masalah sebenarnya. Soal Jan Ethes, cucu Presiden Jokowi, pun dipertanyakan kaitan den­gan kampanye, dan dijawab: apa salah kakek bawa cucu ke mal? Atau sisi lain penampilan keluarga Jokowi di televisi. Kalau mau adil, keluarga Prabowo juga harusnya juga ditampilkan. Antara berpikir normal campur sindiran. Semua menyatu.

Ini tengah terjadi. Dan ma­sih menghangat. Jenis yang bisa menyambar berkobar, seperti yang dilontar Atiqah, putri Ratna Sarumpaet “ratu hoax”, bahwa benar ibunya berbohong, tapi bukan ibunya yang menyebar­kan kabar pengeroyokan, kabar kebohongan.

Nah lho. Ini bukan lagi soal air mata, melainkan siapa yang bakal menangis lebih lama!

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment