Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments

Agar Tubuh Bugar dan Lebih Berotot

Agar Tubuh Bugar dan Lebih Berotot

Foto : dok: streetwokrout_kelapaduarunners
A   A   A   Pengaturan Font

Dengan menggabung  lari dan streetworkout,  berat  badan tidak hanya  berkurang. Badan  juga akan lebih  berisi lantaran ada  pembentukan otototot  tubuh.

Menggabungkan dua olah raga atau lebih memberikan manfaat tubuh secara maksimal. Selain berat badan terjaga, tubuh akan nampak lebih berotot.

Metode latihan seperti itulah yang dilakukan sebuah komunitas yang peduli pada kebugaran tubuh. Namanya Streetwokout_Kelapaduarunners. Mereka adalah komunitas yang menggabungkan lari dan streetworkout dalam satu kegiatan.

Sudah menjadi pendapat jamak, bahwa olah raga mampu menurunkan berat badan. Namun saat berat badan turun, persoalan tak kunjung usai.

Kebanyakan, lantaran badan terlalu kurus akan menyebabkan kurang enak dipandang mata. Dengan kondisi seperti itu, maka olah raga pun digalakkan kembali. Olah raga untuk membentuk badan lebih berotot sehingga tubuh terlihat lebih berlekuk. “Kita (streetwokrout_kelapaduarunners) lari dan pembentukan otot,” ujar Oki Candra, 29, pengurus komunitas saat ditemui bersama dua rekannya yang lain, Edo Fernando, 30 dan Eki Rachmawati, 29 dibilangan Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/3).

Bagi mereka, lari saja tidak cukup, tubuh perlu dibentuk supaya lebih berisi dan berotot. “Kalau lari doang, badan jadi tipis seperti tripleks, badan tidak terbentuk,” ujar dia dengan mencontohkan sejumlah pelari marathon.

Dengan menggabung lari dan streetworkout, berat badan tidak hanya berkurang. Badan akan lebih berisi lantaran ada pembentukan otot-otot tubuh.

Untuk itu setiap Minggu pagi, mereka secara rutin melakukan lari bersama dengan start di daerah danau Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Lari sebagai latihan awal akan menempuh jarak dari 5 sampai 10 kilometer per minggu.

Kenaikan jarak tempuh dilakukan per minggu untuk memberikan tantangan pada anggota. Setelah menempuh 10 kilometer, mereka akan menurunkan intensitas latihan lari supaya tubuh melakukan recovery. Caranya bisa dengan lari pelan-pelan.

Lalu, komunitas akan meneruskan latihan streetworkout dengan calisthenic di sekitar asrama Brimob, Kelapa Dua, Depok. Olah raga ini akan membentuk otot tubuh yang dibantu dengan palangpalang yang sengaja dibuat khusus.

Mengangkat badan dengan berpegangan pada palang merupakan salah satu teknik latihan pada cabang ini. Kekuatan tubuh sangat berpengaruh pada keberhasilan olah raga ini.

Beberapa, peserta langsung menyerah tidak mencapai 10 pull up. Meskipun terkesan berat, namun calisthenic menjadi tantangan untuk melakukan oleh raga lain selain lari. Dengan begitu, semua aktifitas olah raga tidak membosankan.

Sebelum memiliki palang latihan, para anggota komunitas melakukan streetworkout dengan menumpang di sebuah tempat streetworkout di daerah Depok. Baru sebulan ini, komunitas dapat membuat palang-plang untuk membentuk otot badan.

Kegiatan pada minggu pagi menjadi ajang kumpul bersama. Namun, latihan tidak hanya dilakuakn pada hari tersebut. Supaya efektif, anggota komunitas perlu melakukan latihan di hari-hari lain.

Pasalnya, penurunan berat badan dan pembentukan badan tidak cukup hanya dilakukan seminggu sekali. Olah raga tersebut harus dilakukan minimal empat hari dalam seminggu. Bahkan jika memiliki badan terlalau gemuk perlu dilakukan setiap hari, pagi lari lalu sorenya melakukan calisthenic. Dari latihan yang sudah dilakukan, setiap anggota akan melakukan pelaporan perkembangan latihan melalui aplikasi. Pelaporan tersebut akan mengukur intensitas latihan serta perkembangan yang telah diperolehnya.

Jika belum ada perkembangan, anggota lainnya akan memberikan dukungan maupun semangat supaya latihan lebih intensif lagi.

Komunitas yang tergolong masih muda, terbentuk pada 10 November 2018, memiliki anggota sebanyak 50 orang. Mereka terdiri dari masyarakat sipil dan anggota Brimob, Kelapa Dua. Komunitas memang didirikan oleh para anggota Brimod yang ingin memasyarakatkan olah raga lari di daerah Kelapa Dua, Depok.

Lama kelamaan, mereka beranggapan lari saja tidak cukup. Lalu mereka menambah streetworkout sebagai bagian olah tubuh dalam kegiatan komunitas. Melalui komunitas, kegiatan olah raga makin memasyarakat meskipun setiap anggota memiliki motivasi diri yang berbeda satu dengan yang lainnya. din/E-6

Lari, untuk Olah Raga dan Meluapkan Emosi

Olah raga ramai-ramai mampu menyulutkan semangat satu orang dengan yang lainnya. Selain semangat olah raga semakin berkobar, olah tubuh pun menjadi cara untuk meluapkan emosi.

Edo Fernando, 30, wiraswasta merupakan salah satunya. Laki-laki penyuka olah raga lari ini, merasakan efek positif dari olah raga yang dilakukan bersama-sama ketimbang olah raga yang dilakukan secara sendirian. “Kalau sendiri tuh sudah capek akhirnya berhenti, kalau ada teman ada yang support untuk tambah (lari) lagi,” ujar dia.

Bahkan, olah raga tidak hanya membakar kalori saja. Dia mendapat teman-teman baru yang juga menyukai olah raga sesuai hobinya. Alhasil setelah olah raga, Edo tidak langsung pulang ke rumah melainkan ngobrol dengan temantemannya mengenai segala hal terutama terkait olah raga. “Cara nongkrong yang sehat,” ujar dia memberikan istilah.

Pasalnya di jaman serba teknologi, kegiatan nongkrong kerap diganggu dengan telepon selulernya. Bedahalnya dengan, nongkrong yang dilakukan setelah olah raga. Telepon seluler dapat dikesampingkan sejenak lantaran obrolan tentang olah raga tak kalah mengasyikkan ketimbang melirik pesan dari media sosial.

Bahkan, dari obrolan, muncul ide untuk melakukan olah raga yang lebih menantang, seperti calisthenic atau gerakan berirama tanpa menggunakan peralatan.

Hal serupa dirasakan Eki Rachmawati, 29, anggota Polri, olah raga lari yang ditekuni bersama dengan komunitas mengantarkan mengikuti berbagai pertandingan lari.

“Saya senang ikut event,” ujar ibu dua anak ini. Di ajang tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dengan kemampuan lari yang melebihi kemampuannya.

Sebagai anggota Polri, ia terbiasa melakukan latihan fisik termasuk lari. Namun di ajang perlombaan lari, ia banyak menemui peserta yang kemampuan larinya melebihi dirinya. ”Kita memiliki basic (olah tubuh) angkatan, tapi di luar kita masih nol,” ujar dia.

Selama ini, latihan fisik yang dilakukan sebatas kedinasan. Sementara, peserta lomba lari melatih diri lebih keras untuk mengikuti pertandingan lari yang jaraknya bisa mencapai puluhan kilometer.

Dengan mengikuti berbagai pertandingan, perempuan yang mengidam-idamkan ikut dalam triathlon ini, terpacu untuk meningkatkan kemampuan larinya.

Karena itu berlari dengan jarak 5 kilometer selalu dibabatnya setiap hari. Bahkan dengan lari, dia dapat menyalurkan emosinya, lantaran dia mengaku tidak mampu menangis saat kesedihan melanda hatinya. din/E-6

Atur Pola Makan dan Konsisten Olah Raga

Bagi sebagain orang, olah raga menjadi solusi untuk membakar kalori setelah menyantap berbagai jenis makanan. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya keliru, namun untuk mendapatkan bentuk badan tertentu perlu mengatur pola makan.

“Kalau badannya ingin besar ya konsisten (olah raga), setelahnya atur pola makan,” ujar Oki Candra, 29, anggota Polri. Pola makan memegang peranan penting terkait nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Hal tersebut yang diterapkannya, supaya dia memiliki badan berotot.

Supaya mendapattkan bentuk badan yang diinginkannya, Oki selalu menkonsumsi putih telur rebus sebanyak enam biji setiap harinya sebagai menu sarapan. Menu sarapannya masih ditambah dengan satu buah apel atau pisang ditambah susu tinggi protein.

Pada siang hari, Oki baru menyantap nasi berserta lauk pauk dengan komposisi nasi sedikit atau jumlahnya hampir seimbang dengan jumlah sayur. “Jadi bukan nasi banyak lauknya sedikit,” ujar Oki, kemudian tergelak.

Oki lebih memilih meniadakan makan malam dan mengganti dengan makan sore sekitar pukul 17.00 WIB. Menunya masih sama, yaitu nasi dan lauk pauk dengan jumlah nasi tidak lebih banyak dari lauk pauk. Sebagai ganti makan malam, dia hanya mengkonsumsi buah.

Pola makan yang dilakukan tergolong ketat. Namun bukan berarti, Oki tidak pernah mencicip burger sebagai makan malam atau es di siang hari.

“Kalau mau makan coklat, es, boleh saja, tapi besok kalorinya harus dibuang (olah raga), harus konsisten,” ujar laki-laki yang memiliki bobot tubuh 70 kilogram ini.

Jika Oki menyantap putih telur rebus sebagai menu sarapan, berbedahalnya dengan Edo Fernando, 30. Edo memilih meniadakan sarapan untuk pola makannya sehari-hari.

“Hampir dua tahun, saya tidak makan pagi dan buat saya itu cukup,” ujar Edo yang hanya minum air putih hangat beberapa gelas di pagi hari.

Baru pada siang dan sore hari, Edo membebaskan dirinya untuk makan dengan nasi dan lauk pauk sesuka hati. “Karena, saya makan nasi banyak,” ujar dia. Bahkan, dia membebaskan dirinya untuk menyantap segala jenis lauk pauk, termasuk kikil yang menjadi kesukaannya.

Selain itu, Edo berupaya mengurangi konsumsi gula. Jika ingin minum teh maupun kopi, dia memilih untuk tidak menggunakan gula pada kedua minuman tersebut. Tujuannya tidak lain, supaya ia bisa menikmati kuliner yang disukainya tanpa terlalu khawatir berat badan bakal melonjak.

Edo mengakui bahwa tidak semua orang memiliki pola makan seperti dirinya. Itu karena setiap orang memiliki kebutuhan asupan pangan dan aktifitas yang berbedabeda. Namun dengan pola makan yang dianutnya, ia bisa mengontrol berat badannya, 66 kilogram. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment