Koran Jakarta | July 20 2019
No Comments
Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R Agus H Purnomo, Terkait Keamanan Pelayaran

Agar Selamat Berlayar, Patuhi Maklumat Pelayaran

Agar Selamat Berlayar, Patuhi Maklumat Pelayaran

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2019 M/1440 H resmi ditutup oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada Jumat (14/6) lalu.

 

Posko yang ditutup adalah untuk moda transportasi darat, udara, dan kereta api. Sedangkan Posko moda transportasi laut masih terus berjalan hingga H+15. Dari evaluasi sementara ada beberapa catatan terjadi musibah di laut.

Untuk mengetahui lebih jauh upaya dan langkah yang dilaku­kan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam mencegah terjadinya musibah yang tidak diinginkan, berikut perbincangan Koran Jakarta dengan Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R Agus H Purnomo, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Langkah apa yang dilakukan oleh pemerintah agar tidak ter­jadi kecelakaan?

Banyak faktor yang mendu­kung kelancaran dan kesela­matan saat kapal berlayar di laut. Salah satunya, faktor alam atau kondisi cuaca yang akan sangat berpengaruh dalam berlang­sungnya aktivitas pelayaran di Indonesia. Oleh karena itu, informasi tentang prakiraan cuaca sangatlah penting dalam kegiatan pelayaran.

Hal yang dilakukan?

Iya, mengingat pentingnya infor­masi cuaca dan tinggi gelombang dalam kegiatan pelayaran maka setiap pekan Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mengeluarkan Maklumat Pelayaran berdasarkan hasil pe­mantauan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG). Hal ini meru­pakan wujud tanggung jawab dari Ditjen Perhubungan Laut sebagai instansi pemerintah yang bertang­gung jawab dalam bidang kesela­matan pelayaran.

Lalu, kapal-kapal tersebut wajib mematuhi?

Wajib. Kami mengimbau kepada para nakhoda dan kapal-kapal yang berlayar di perai­ran Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak memaksakan melaut jika terjadi cuaca buruk dan gelombang tinggi karena sangat membahay­akan aktivitas pelayaran. Dan ini juga menginstruksikan kepada para syahbandar agar menunda pemberian Surat Perstujuan Ber­layar (SPB) apabila kondisi cuaca membahay­akan, sampai kondisi cuaca di sepanjang perairan yang akan dilayari benar-benar aman.

Hal itu sebagai petunjuk untuk kapal berlayar?

Upaya-upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya musibah di laut yang diakibatkan oleh faktor cuaca. Karena fungsi utama dari informasi cuaca bagi pelayaran adalah memberi petun­juk pemilihan jalan agar kapal dapat berlayar dengan aman, nyaman, dan juga selamat sampai tujuan dengan tepat waktu. Dan tanpa informasi tersebut, akan ada banyak kendala dan ketidaknyamanan dalam berlayar dan sangat berpo­tensi menyebabkan kecelakaan akibat dari kurangnya informasi cuaca dan tinggi gelombang.

Lalu terkait posko moda laut, mengapa lebih lama ditutup ketimbang moda lain?

Iya, perbedaan itu disebabkan oleh faktor pelayaran kapal dari satu titik ke titik lainnya memakan waktu lebih lama bila dibandingkan moda transportasi lainnya sehingga ditetapkan Posko Angkutan Laut Lebaran dimulai lebih dahulu dan berakhir belakangan yaitu dari H-15 sampai dengan H+15 atau hingga 21 Juni 2019.

Bagaimana laporan mudik jalur laut?

Secara umum Kemenhub mencatat terjadi penurunan angka kecelakaan mencapai 75 persen dari tahun 2018, termasuk di moda transportasi laut.

Untuk jumlah pemudiknya?

Dari data yang kami peroleh jum­lah pemudik angkutan laut menin­gkat. Dari H-15 sampai dengan H+7 tahun 2019, total penumpang naik sebanyak 1.486.065 orang atau me­ningkat 8,77 persen dari tahun 2018 yang mencatat sebanyak 1.366.254 orang. m zaki alatas/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment