Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments

Agar Ruang Publik Tak Kian Tergerus

Agar Ruang Publik Tak Kian Tergerus

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pemanfaatan beberapa bagian bangunan menjadi solusi pembuatan ruang publik. Ini dikarenakan ruang publik menjadi ruang bersama. Di ruang tersebut, masyarakat dapat melakukan aktifitas sosial bersama tanpa dipungut biaya. Sayang di kawasan megacity, semacam Jakarta, ruang-ruang tersebut makin minim selain tergerus dengan bangunan komersial. Harga tanah yang terus melambung menjadikan pembangunan ruang publik makin sulit diwujudkan.

“Harga tanah menjadi isu yang menyebalkan,” ujar Daliana Suryawinata, Co Founder SHAU di Roterdam dan Bandung, sebuah biro arsitek di Jakarta. Meski harga terus melambung dari waktu ke waktu, Dalina mengatakan bahwa ruang publik bukan berarti tidak mungkin terwujud.

Penggunaan air space menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk membuat ruang publik. Terlebih saat ini, pemerintah tengah membangunan MRT. “Adanya MRT di Jakarta, akan ada air space di kiri dan kanannya, itu potensial sekali untuk dibikin ruang publik,” ujar dia tentang ruang publik yang dapat berkembang di daerah megacity.

Jalur transportasi umum mendorong munculnya ruang publik serta ruang terbuka hijau. “Yang penting transportasi umum,” ujar dia. Karena, pembangunan transportasi umum akan berdampak pada pembangunan pedestrian, penataan TOD (Transit Oriented Development) dan lainlain. “Kalau transportasi direvisi maka pedestrian akan direvisi,” ujar dia.

Di sisi lain, Daliana mengatakan gaya hidup masyarakat dapat mendorong industri maupun pemerintah membuat ruang publik. “Market berubah desain juga akan berubah. Masyarakat yang hidup sehat pasti akan banyak ruang terbuka hijau,” ujar dia.

Gaya hidup yang sehat dapat memperpanjang kualitas kota lebih lama. Moment Asian Games 2018 yang barus selesai memberikan andil dalam penataan kota. Dengan adanya ajang tersebut, Jakarta, khususnya menjadi berbenah diri untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Salah satu yang terlihat dengan pelebaran pedestrian di sekitar Gelora Bung Karno dan sekitar ruang ruas jalan.

Masyarakat mempunyai akses jalan kaki yang lebih lapang menuju satu tempat ke tempat lainnya. Ruang publik menjadi kebutuhan kota untuk menjaga kualitas hidup warganya. Berdasarkan data dari Kementerian PUPR, Sigit Kusumawijaya, Direktur SIG, sebuah biro arsitektur dan urban planning ini mengatakan pada 2030 sebanyak 60 persen masyarakat di Asia akan tinggal di perkotaan.

Kenyataan, ruang publik sebagai penampung aktifitas warga keberadaannya makin minim. Untuk mewujudkan ruang publik maupun ruang terbuka hijau, Sigit berpendapat perlu adanya kerja sama dari semua pihak, baik kontraktor, arsitek, supplier, pemerintah maupun pemilik bangunan. Sampai saat ini, kerja sama tersebut tersebut masih menjadi kendala. “Kadang mentalitas yang belum sama,” ujar dia.

Meski, peraturan daerah telah mengatur ruang publik maupun ruang terbuka hijau namun pelaksanaannya belum maksimal. Selain itu, beberapa arsitek masih mendahulukan mendapatkan proyek ketimbang mempertimbangkan penggunaan green architecture. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment