Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments

Agar Para Ibu Punya Visi dan Misi

Agar Para Ibu Punya Visi dan Misi

Foto : foto-foto: dok/komunitas Ibu Profesional
A   A   A   Pengaturan Font

Dalam mengikuti program Institute Ibu Profesional, para ibu dituntut untuk konsentrasi membuka apa yang diinginkan dalam kehidupannya.

Menjadi seorang ibu tidak hanya sekadar status sosial. Ibu juga tidak selalu identik dengan peran sebagai istri semata. Seorang ibu juga mestinya tidak hanya “pasif” merawat anak tanpa “ilmu”.

Artinya, menjadi ibu tidak sakadar label yang disematkan setelah menikah maupun melahirkan. Karena, Ibu membutuhkan visi misi kehidupan.

Ibu Profesional, sebuah komunitas yang mengajak para ibu untuk percaya diri dalam mengasuh buah hatinya bahkan saat berkomunikasi dengan pasangan.

Komunitas ini memotret, peralihan peran dari perempuan lajang menjadi istri maupun ibu terkadang tidak dipersiapkan secara mendalam. Alhasil dalam perjalanan kehidupannya, perempuan seringkali tergagap-gagap saat mengasuh buah hatinya maupun menghadapi pasangan yang tidak satu pemikiran dengan dirinya.

Seperti yang dihadapi Finny Hiraini Noor Azizah, 35, yang pernah menghadapi masalah komunikasi dengan pasangannya. “Karena, pernikahan kan dua insan yang berbeda. Yang jadi masalah ketika akan mengkomunikasikan sesuatu,” ujar Finny, koordinator Ibu Profesional Bogornyang ditemui bersama rekannya Nesri Baidani, Direktur Resource Centre Ibu Profesional sembari mengasuh buah hatinya di Bogor, belum lama ini.

Dengan latar belakang yang berbeda, seringkali komunikasi pun menjadi sulit dipahami. Belakangan, dia baru memahami bahwa komunikasi membutuhkan waktu yang tepat, gestur tubuh bahkan sampai intonasi suara, sehingga menemukan pemahaman yang sama di antara keduanya.

Dalam menghadapi kehidupan, sudut pandang perlu dibuka seluas-luasnya dan memahami keinginan diri. Karena dengan begitu, setiap individu dapat mengembangkan diri secara maksimal tidak terkecuali saat dirinya berperan sebagai istri maupun ibu.

Saat ini, masih banyak perempuan yang tidak mempersiapkan dirinya saat memasuki kehidupan baru. “Banyak yang gitu, kayak kalau mereka sudah nikah otomatis punya anak, sudah gitu saja, jadi kayak nggak mau belajar,” ujar Nesri. Sehingga saat menghadapi permasalahan, mereka lebih mengandalkan emosi ketimbang menemukan solusinya.

Ibu Profesional mengajak para ibu untuk terus belajar. Para ibu yang memahami dirinya sendiri dan memahami apa keinginannya. Kegiatan terbagi dalam Institut Ibu Profesional, Komunitas Ibu Profesional, Financial Building,dan Resource Center.

Institut Ibu Profesional menjadi pijakan awal dalam kegiatan komunitas ini. Bahkan, peserta yang ingin bergabung ke komunitas harus lulus program Institut Ibu Profesional yang dilakukan beberapa minggu.

Dalam program ini akan berisikan matrikulasi dengan kurikulum berjenjang, yaitu Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Solikhah. Tujuannya, agar ibu mengetahui visi misi kehidupannya.

Dalam mengikuti program Institut Ibu Profesional, para ibu dituntut untuk konsentrasi membuka apa yang diinginkan dalam kehidupannya. Mereka juga diberikan pekerjaan rumah untuk menyelesaikan satu persoalan demi persoalan.

Jika tidak serius mengikuti program tidak menutup kemungkinan, peserta tidak lulus matrikulasi. Alhasil, mereka tidak dapat menjadi anggota komunitas yang tersebar diseluruh dunia.

Jika para peserta dinyatakan lulus, mereka dapat bergabung dalam kegiatan-kegiatan komunitas lainnya. Misalnya berupa Komunitas Ibu Profesional yang mewadahi minat bakat ibu, seperti menjahit atau membuat kue bahkan bertukar informasi tentang bisnis.

Selain itu, komunitas akan menggelar workshop-workshop yang digelar setiap bulan. Adapun, financial building merupakan kegiatan keuangan komunitas dan resource center menjadi bank data komunitas.

Saat ini, Ibu Profesional memiliki anggota sebanyak 21 ribu yang tersebar di seluruh dunia. Komunitas tersebar di 52 perwakilan di dalam negeri dan 2 untuk perwakilan luar negeri.

Untuk perwakilan luar negeri meliputi satu perwakilan untuk seluruh Asia dan satu perwakilan untuk Oseania. Anggota yang berada di luar negeri merupakan Warga Negara Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Ibu Profesional berdiri sekitar 7 tahun yang lalu. Komunitas ini didirikan oleh Septi, dia ingin memberikan pengajaran tentang parenting. Setiap Rabu di salah satu ruangan di rumahnya, dia kerap berbicara sendiri di depan cermin mengkondisikan diri sedang memberikan pelatihan.

Di setiap jam kerjanya, dia akan mengatakan pada orang rumah bahwa dia akan kerja dahulu. Hingga suatu hari, ada tamu yang bertandang dan melihat latihannya.

Tamu tersebut pun ikut ambil bagian dalam kegiatan pelatihan selama satu jam. Lama kelamaan, jumlah anggotanya bertambah hingga saat ini mencapai 21 ribu orang. din/E-6

Ibu Rumah Tangga Harus Tetap Berprestasi

Terkadang, manusia memiliki pilihan hidup di luar kebiasaan masyarakat pada umumnya. Alhasil mau tidak mau, mereka pun harus berhadapan dengan segala bentuk protes bahkan sindiran dari lingkungan sekitar maupun keluarganya. Namun saat mampu menunjukkan hasil, segala protes dan sindiran pun sirna dengan sendirinya.

Finny dan Nesri merupakan beberapa orang yang memiliki pilihan hidup yang belum sepenuhnya diterima masyarakat.

Finny memilih mengundurkan diri dari profesinya sebagai asisten dosen di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bandung saat dirinya tengah hamil dua bulan. Nesri memilih menyekolahkan anaknya secara homeschooling padahal latar belakang keluarganya adalah akademisi.

Finny masih teringat pandangan keluarganya saat ia memilih menjadi ibu rumah tangga pada 2009 silam. “Saat itu pandangan keluarga negatif. Apaan, sudah kuliah lama dibiayain, masuknya dapur-dapur juga,” ujar dia, mengenang saat memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan akan mengasuh putra putrinya sendiri.

Kini, keluarga yang sempat memprotes pilihannya, berbalik mendukung. Setelah, ia mampu menunjukkan bahwa seorang ibu rumah tangga tidak hanya “menganggur” melainkan dapat memaksimalkan waktunya untuk mengasuh buah hati.

Hal ini dibuktikan dengan kemampuan Finny mengasuh ke empat buah hatinya sembari membuka depot air isi ulang di rumahnya. Terlebih di tempat tingggalnya, Bogor, Finny tidak memiliki sanak saudara. Alhasil, dia tidak dapat mengharapkan bantuan saudara, semua.

Jika Finny pernah bekerja sebagai asisten dosen, Nesri mengaku telah menjadi ibu rumah tangga sejak menikah. Ia tidak mengalami permasalahan dengan keluarganya tentang keputusannya tersebut. Keluarga hanya berpesan supaya komitmen untuk mengurus anak-anaknya jangan sampai terbengkali.

Tantangan baru muncul, saat perempuan jebolan Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro Semarang ini memutuskan untuk menyekolahkan anak-anaknya secara homeschooling.

Orang tuanya yang berlatar belakang sebagai dosen dan keluarga besar suaminya berlatar belakang sebagai guru memprotes keputusannya tersebut. “Jadi pas tahu, anakanak tidak sekolah, mereka agak gimana gitu,” ujar ibu tiga anak ini.

Pandangan keluarga pun berubah, saat mengetahui anak-anaknya tidak kalah berprestasinya dibandingkan anak-anak yang bersekolah di sekolah umum. Seperti, saat salah satu anaknya ikut dalam lomba cerdas cermat dan memenangkan juara pertama.

Nesri mampu teguh dengan keputusannya lantaran dia tidak pernah mempersoalkan pandangan orang lain tentang keputusannya. “Karena, kita sudah mengenal diri sendiri. Jadi nggak terlalu memperdulikan omongan orang,” ujar dia.

Selain itu, dia tidak perlu orang lain untuk mengenalkan dirinya. Dengan begitu, dia lebih fokus untuk mengajarkan anaknya. Keputusan homeschooling tidak lain karena dia membutuhkan ruang yang sesuai untuk pendidikan putra putrinya yang senang bertanya. din/E-6

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment