Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments

Agama dan Praktik Kehidupan Masa Kini

Agama dan Praktik Kehidupan Masa Kini
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Agama dan Kesadaran Kontemporer
Penulis : Bartolomeus Sambo, dkk
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2019
Tebal : 360 Halaman
ISBN : 9789792161816

Indonesia menganut agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan beberapa kepercayaan yang senantiasa menjadi pedoman hidup. Dalam kehidupan kontemporer, agama jadi salah satu topik perbincangan. Sayang, agama kerap menjadi tameng atau alasan membenarkan diri dan menafikan kepercayaan penganut agama lain.


Dalam buku ini, sejumlah penulis membahas permasalahan agama yang topik berbagai seminar. Mardohar Simanjuntak, misalnya, dalam tulisan berjudul Agama dan Psikologi: Masa Depan Agama dari Perspektif Psikologi, mencoba merenungkan yang telah dicapai Bunda Teresa dan Mahatma Gandhi. Dia mencari tahu besaran peran agama dalam membangun kematangan spiritual-religius kedua sosok historis tersebut.


Tulisan tersebut mau menemukan apakah karakter luhur kedua tokoh tadi dimungkinkan oleh agama. Tentunya, pencapaian kematangan dimensi spiritual yang monumental dari kedua pejuang kemanusiaan tersebut bukan murni upaya individual, tapi berkat iman mereka (hlm 265).


Bartolomeus Samho, dalam tulisannya Agama dan Wahyu menjelaskan bahwa keselamatan lahir batin (ketenteraman, kedamaian, keutuhan diri, kepedulian terhadap sesama) kini dan kelak menjadi tujuan final manusia beragama. Maka, iman perlu bertumbuh dari dan berakar dalam pengalaman sehari-hari yang direfleksikan sampai pada tataran religiositas. Artinya, dikaitkan dengan misteri-misteri terdalam kehidupan.


Lebih lanjut Bartolomeus menjelaskan, refleksi atas pengalaman hidup eksistensial secara otomatis juga akan membuat orang mempertimbangkan kembali bermacam wahyu dan kebenaran dari agama-agama lain. Iman yang bertumbuh dan mencari kematangannya memang akan bertualang menelusuri keluasan dan kompleksitas kehidupan.
Terburu-buru memberi cap atheis, agnostik, sekuler, kafir, bidaah, dan sebagainya pada orang-orang yang bertualang ini hanya akan membuat mereka justru alergi terhadap institusi agama. Karena itu, agama sebagai institusi yang mengelola iman juga perlu menyediakan ruang untuk petualangan batin seperti itu. Apalagi pada zaman ketika kecerdasan dan kemandirian individu tidak bisa lagi dimungkiri (hlm 97).


Sebagaimana dijelaskan Bambang Sugiharto dalam pengantar buku, tulisan-tulisan di sini merupakan refleksi kritis atas berbagai fenomena penting praksis kehidupan beragama saat ini. Diawali dengan mendudukkan agama dalam konteks abad ke-21 yang penuh kontradiksi, berlanjut ke posisi rasionalitas, wahyu, sains, imaji, dan kurban agama-agama. Pada bab lain, pembahasan agama dilihat korelasinya dengan berbagai bidang besar dalam hidup. Buku ini bisa bisa menjadi bacaan untuk melihat persoalan agama yang belakangan kerap mencederai praksis kehidupan.


Diresensi Untung Wahyudi, Lulusan Sunan Ampel, Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment