Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments

ABI, Memadukan Hiburan dan Kebaikan

ABI, Memadukan Hiburan dan Kebaikan

Foto : ANTARA/Aprillio Akbar/foc
A   A   A   Pengaturan Font

Badut profesional perlu membekali diri dengan kemampuan akrobatik, seni sulap, seni musik, dan seni tari. Dengan pengetahuan itu, penampilan dalam setiap event akan lebih berbobot.

Hidung bulat merah, make up tebal menutup wajah, baju warna-warni, dab badan selalu bergoyang. Gambaran tersebut lekat dengan badut. Tokoh lucu itu kerap menghibur terutama di pesta ulang tahun anak. Ya, penampilan badut memang khas. Performa lucu sepertinya menjadi perilaku yang wajib ditampilkan. Tapi, benarkah badut hanya harus lucu? Ternyata tidak.

Komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) mengatakan badut tidak cukup mengandalkan penampilan lucu. Badur juga harus baik. Filosofinya, menghibur itu tidak hanya lucu tapi juga harus mengandung unsur yang baik. Dalam penampilannya, badut memang atraktif.

Misalnya, ketika aksi akrobat maupun sulap mampu menghibur pengunjung car free day (CFD) di seputaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (9/12). Para penonton yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa melingkar mengitari para anggota ABI yang tengah beraksi. Mereka mendapat suguhan akrobat maupun sulap yang mengundang tawa.

“Kalau jadi badut harus baik dulu, baik sama anak-anak,” ujar Dedy Rachmanto, salah satu pendiri ABI, yang ditemui disela-sela atraksi bersama komunitasnya. Nilai kebaikan menjadi utama untuk menjadi badut. Karena badut akan menghadapi anak-anak maupun orang dewasa. Tanpa sikap yang didasari nilai kemanusiaan tersebut akan sulit untuk menjadi sahabat penonton, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Nilai kemanusiaan pula yang menggerakkan ABI untuk melakukan kegiatan kemanusiaan. Seperti yang dilakukan pada acara CFD, mereka tidak sedang mengamen untuk mendulang rupiah. Mereka tengah menggalang donasi untuk anak-anak penderita kanker di daerah Tangerang.

“Kita nggak ngamen, kita mencari dana dan memberikan penghargaan,” ujar laki-laki yang dikenal dengan Dedy Delon. Penghargaan yang dimaksud tidak lain berupa kalender 2019. Para penonton yang telah memberikan donasi mendapatkan kalender sebagai timbal baliknya. Sedangkan donasinya untuk membantu pengobatan penderita kanker.

Badut kerap dianggap sebagai penghibur atau memeriahkan acara. Padahal profesi tersebut tidak sekedar berbekal goyang pinggul semata. Badut profesional memiliki standar dasar.

“Standarnya harus bisa pantomim, minimalnya,” ujar laki-laki yang telah memiliki cucu ini. Lalu, para badut profesional perlu membekali diri dengan kemampuan akrobatik, seni sulap, seni musik dan seni tari. Dengan bekal pengetahuan, mereka akan memiliki nilai tambah. Imbasnya, penampilan dalam setiapevent akan lebih berbobot. Kebanyakan, para professional badut tidak tampil sendiri di atas panggung. Setidaknya, mereka akan tampil bersama sebanyak tiga orang.

Selain untuk menyesuaikan alur cerita, penampilan berkelompok akan memberikan nilai edukasi terutama pada anak-anak. Yaitu, kerja sama akan lebih baik dibandingkan kerja sendiri. Berbagai kekonyolan menjadi bahan lelucon di atas panggung. Kekonyolan tersebut bukan berarti tanpa batas. Dalam aturan profesi badut secara internasional, mereka tidak boleh menampilkan bullying secara fisik maupun verbal.

Bahkan ketika badut yang membisiki kata atau kalimat tertentu pada anak-anak yang didaulat naik ke atas panggung.”Biarkan anak-anak dengan celotehnya sendiri, kita hanya menghibur,” ujar mantan juru masak hotel yang tidak betah kerja di perhotelan tersebut. Badut dan lelucon menjadi satu kesatuan. Anggota dewan yang kerap mendapat julukan badut politik karena pendapatpendapatnya dirasa konyol tidak dapat disamakan dengan profesi badut.

“Kita nggak pernah berpikiran untuk berpolitik. Kita hanya menghibur masyarkat Indonesia,” ujar dia. Pada 2019 nanti, ABI berencana melatih sulap dan akrobatik untuk anak-anak jalanan. Selain aksi sosial, upaya tersebut untuk mencari sumber daya manusia untuk mendukung kegiatan ABI. Selain itu, ABI memiliki perpustakaan keliling dan tempat belajar di daerah Tangerang yang menampung buku dan mainan anak-anak dari warga Singapura.

Dengan Gerakan Anti Mubazir tersebut, mereka akan memberikan akses buku dan mainan untuk anak-anak pemulung. Komunitas ini masih tergolong belia, berdiri pada 23 Februari 2018, didirikan untuk melakukan aksi sosial di masyarakat, awalnya untuk penderita kanker. Sebanyak 16 anggota yang terdiri dari para badut profesional menghibur masyarakat sembari melakukan aksi sosial untuk memberikan bantuan pada masyarakat kurang mampu. din/E-6

Harus Edukatif, Lalu “Show Must Go On”

Atraksi pertunjukkan badut tidak sekedar lucu-lucuan. Para badut ditantang untuk mempertontonkan aktraksi menghibur serta edukatif. Dua unsur pentunjukkan yang tidak mudah diwujudkan dalam sebuah pertunjukan. “Tantangannnya, kita nggak cuma menghibur, kita kasih edukasi. Apalagi, (penontonnya) anak-anak,” ujar Fauzan Firmansyah, 38, Humas ABI.

Fauzan mencermati anakanak lebih banyak terpapar game gadget ketimbang permainan edukatif. Pertunjukan badut dapat menjadi alternatif sekaligus mengasah daya kognisi anak-anak.

Dalam membuat materi pertunjukan, laki-laki yang mulai menekuni badut sebagai entertainment sejak 1998 ini, kerap mengkombinasikan materi permainan dari luar negeri dengan budaya Tanah Air. Akrobat yang menjadi permainan khas pertunjukkan badut menjadi salah satunya.

Jika sebelumnya akrobat banyak dilakukan dengan bola maka ia menggunakan piring sebagai medium permainan. Piring mengingatkan pada Tari Piring dari Sumatera Barat. Ibnu Machdiansyah, 28, anggota ABI membenarkan bahwa membuat materi pertunjukkan merupakan tantangan. Adakalanya, materi menjadi pertunjukkan lucu di suatu tempat namun di tempat lain materi tersebut tidak mampu memancing tawa penonton.

Penonton yang tidak responsif tidak menyurutkan pertunjukkan. “Show must go on,” ujar dia sambil tergelak. Laki-laki yang banyak tampil dalam pertunjukan ulang tahun itu mengatakan bahwa badut merupakan passionnya. “Karena badut jarang orang bisa,” ujar dia. Alhasil, dia tidak ragu menekuni badut sebagai ladang pencari nafkah untuk mengidupi istri dan satu orang putera, 7 bulan.

“Cukuplah, untuk keluarga kecil saya,” ujar dia. Ia berharap masyarakat lebih menghargai profesi badut. Pasalnya, sebagian masyarakah masih memandang rendah profesi tersebut.

“Pas kita kasih harga, mereka (masyarakat) shock,” ujar dia yang enggan menyebut tarif untuk sekali pertunjukan. Badut tidak dapat dipandang sebagai pertunjukan murah karena kostum yang digunakan sebagian harus impor, yakni salah satunya aksesoris hidung yang menjadi ciri khas badut. Belum lagi, kostum yang harus didesan dan dibuat khusus ke penjahit. Beruntung, laki-laki yang sejak SMP telah tertarik dengan badut tidak pernah mendapat tentangan dari keluarga besarnya.

Hanya, mereka pernah menyarankan mencari pekerjaan lain selain sebagai badut. din/E-6

Kombinasi Kostum Warna-warni dan Batik

Aku Badut Indonesia (ABI) tidak hanya menggunakan kostum warna-warni yang terkesan meriah. Mereka memadukan kostum khas badut dengan batik. Menampilkan batik adalah kebanggaan karena merupakan salah satu kekayaan kain dalam negeri. Barangkali hanya badut di Indonesia yang menggunakan batik sebagai bagian dari kostumnya. “Sebagai ciri khas,” ujar Fauzan Firmansyah.

Perkembangan batik membuat kain tersebut dapat berbaur dengan kostum yang berwarna dan kontras. Batik yang muncul dalam berbagai warna sehingga memudahkan untuk memadu padankan dengan kostum badut yang penuh warna. Sebut saja, batik yang digunakan sebagai rompi.

Selain batik, kain tenun merupakan jenis kain lain yang dipilih sebagian kostum badut. Salah satunya, tenun menjadi bahan celana badut yang terkenal longgar.

Setiap negara memiliki ciri khasnya masing-masing. Rata-rata, kostum tersebut didesain para badut professional lalu dibawa ke tukang jahit. Terkadang kostum yang digunakan merupakan kostum daur ulang. Artinya, kostum yang pernah digunakan di masa lalu diperbaharui kembali dengan penambahan berbagai detail. Seperti kemeja putih yang digunakan Dedy Rachmanto. Kemeja tersebut merupakan koleksi salah satu kostumnya yang pernah digunakan pada 2001.

Ia menambah beberapa detail untuk penampilannya di CFD, Jakarta, Minggu (9/12). Karena, biaya kostum badut cukup menguras kantong, yaitu senilai 2,5 juta rupiah dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dengan mendaur ulang, para badut dapat memperoleh kostum baru dengan harga lebih hemat. Selain kostum, riasan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam penampilan badut. Rias menjadi ciri khas lainnya.

“Dibutuhkan waktu 30 menit (merias), masing-masing badut merias sendiri,” ujar dia. Meriah membutuhkan keahlian mendorong ABI membuka kelas rias badut yang diperuntukkan umum setiap Selasa atau Rabu di daerah Kwitang, Pasar Senen, Jakarta Pusat. Kelas tidak dipungut biaya alias gratis. Setiap masyarakat yang tertarik belajar rias badut dalam bergabung di kelas tersebut. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment