Koran Jakarta | November 13 2018
No Comments
Identifikasi Korban

71 Penumpang Lion Air PK-LQP Teridentifikasi

71 Penumpang Lion Air PK-LQP Teridentifikasi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Jumlah korban kecelakaan Pesawat Lion Air PK-LQP tujuan Jakarta-Pangkal Pinang, Bangka Belitung, yang teridentifikasi mencapai 71 oleh tim Disaster Victim Investigation (DVI) Polri.

Pada Kamis (8/11), sebanyak 20 korban yang berhasil teridentifikasi dari pemeriksaan pada 186 kantung jenazah yang tiba dan diperiksa di Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, sejak Senin (29/10) lalu dengan mengambil 609 sampel DNA post mortem dan 256 sampel ante mortem dengan terverifikasi 189 sampel dari pihak keluarga.

“Hari ini berhasil teridentifikasi 20 penumpang kecelakaan Lion Air JT 610 yang merupakan hasil dari pemeriksaan pada 186 kantung jenazah yang berisi bagian tubuh dan telah melalui sudang rekonsiliasi,” kata Kepala Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, Brigjen Pol Musyafak, saat konferensi pers di RS Polri Raden Said Sukanto, Jakarta Timur, Kamis malam.

Berdasarkan keterangan dari tim DVI Polri, korban Lion Air JT 610 yang berhasil teridentifikasi kali ini, adalah hasil sidang rekonsiliasi pencocokan data post mortem dari jenazah korban yaitu data primer sidik jari dan DNA, dengan data antortem dari keluarga serta pihak lainnya sebagai data sekunder yakni tanda medis dan properti yang dibawa.

Hasil sidang rekonsiliasi pukul 16.00 WIB di RS Polri Raden Said Sukanto adalah Denny Maulana (laki-laki, usia 30 tahun) melalui DNA, Shintia Melina (perempuan, usia 25 tahun) melalui DNA, Yunita (perempuan, usia 32 tahun) melalui DNA, Daryanto (laki-laki, usia 43 tahun) melalui DNA, Junior Priadi (laki-laki, usia 32 tahun) melalui DNA, dan Hesti Nuraini (perempuan, usia 45 tahun, melalui DNA).

Kemudian Inayah Fatwa Kurnia Dewi (perempuan, usia 38 tahun) melalui DNA, Mery Yulyanda (perempuan, usia 23 tahun) melalui DNA dan medis, Tri Haska Hafidzi (laki-laki, usia 31 tahun) melalui DNA, dan Linda (perempuan, usia 49 tahun) melalui DNA.

Penumpang lainnya, Filzaladi (laki-laki, usia 30 tahun) melalui DNA, Ary Budiastuti (perempuan, usia 48 tahun) melalui DNA, Hasnawati (perempuan, usia 57 tahun) melalui DNA, Wendy (laki-laki, usia 29 tahun) melalui DNA, dan Indra Bayu Aji (laki-laki, usia 39 tahun) melalui sidik jari.

Selanjutnya, Dolar (laki-laki, usia 37 tahun) melalui sidik jari, Abdul Efendi (laki-laki, usia 50 tahun) melalui sidik jari, Tan Toni, laki-laki, usia 60 tahun) melalui sidik jari, Hedy (laki-laki, usia 36 tahun) melalui sidik jari, medis dan properti, serta Arif Yustian (laki-laki, usia 20 tahun) melalui DNA.

Asuransi

Terkait dengan asuransi, salah satu keluarga korban dari Pangkalpinang, Bangka Belitung, Ida Riyani, berharap maskapai Lion Air tidak mempersulit pengurusan klaim uang asuransi melalui persyaratan dan aturan administratif yang dinilai cukup berbelit-belit.

Ida mengaku kesulitan memenuhi permintaan pihak maskapai terkait persyaratan klaim asuransi seperti akta lahir dan dokumen administratif lainnya, karena pengurusan dokumen tersebut membutuhkan waktu dan prosedur yang tidak mudah.

“Saya ini hanya orang kampung, tidak sekolah. Kami semua di sini, mengurus persyaratan yang kami bisa. Akta lahir, misalnya, susah kami dapatkan, dulu lahir dengan dukun, tidak ada itu. Saya minta tidak dipersulit (oleh Lion Air terkait persyaratan administratif), sudah capek fisik, jasmani, capek rohani menjalani ini semua,” kata Ida.

Ia menyebutkan proses untuk mengurus berbagai hak yang sudah seharusnya diterima pihak keluarga korban relatif melelahkan.
 jon/Ant/P-5

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment