Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments
Alih Fungsi Lahan

6 Pulau Gambut di Provinsi Riau Terancam Tenggelam

6 Pulau Gambut di Provinsi Riau Terancam Tenggelam

Foto : ANTARA/RONY MUHARRMAN
GAMBUT TERBAKAR - Petugas menyemprotkan air ke lahan gambut yang terbakar di Desa Parit Baru, Kampar, Riau, pekan lalu (11/7).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Sebanyak enam pulau di Provinsi Riau, yakni Rupat, Rang­sang, Tebing Tinggi, Padang, Batu Mandi, dan Bengkalis terancam teng­gelam. Ini terjadi karena lahan di pu­lau tersebut beralih fungsi dari gambut menjadi objek Hutan Tanaman Indus­tri (HTI), seperti sawit dan akasia.

“Eksploitasi besar-besaran yang tak sesuai dengan karakter lahan gambut telah menyebabkan benca­na kebakaran hutan di pulau-pulau tersebut. Dan sekarang semua pu­lau itu menghadapi ancaman teng­gelam karena mengalami abrasi dan penurunan muka tanah,” kata Di­rektur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau, Riko Kurniawan, saat dihubungi, Jumat (19/7).

Sebelumnya, Profesor Koichi Yama­moto, Guru Besar Universitas Yamagu­chi Jepang, pernah meneliti pesisir Pu­lau Bengkalis selama enam tahun dan menyebut laju abrasi hingga 40 meter per tahun akan mengakibatkan Pulau Bengkalis tenggelam.

Yamamoto, yang merupakan ahli environmental engineering and sedi­ment transport, itu menilai abrasi diperparah kanal-kanal air yang di­buat untuk menyokong perkebunan di sekitarnya. “Kanal-kanal mengiris kubah gambut dan mengoyak ke­utuhan lahan gambut. Akibatnya, ketika hujan deras turun, bongkah­an-bongkahan gambut longsor dan terburai ke arah laut,” ujar Yamamoto, seperti dikutip sejumlah media.

Gambut itu merupakan gambut ke­ring yang mudah patah ketika terkena ombak. Tanah gambut sebenarnya ti­dak boleh dikanalisasi. Saat kering, gambut sudah lapuk sehingga akan te­gerus ombak menimbulkan abrasi.

Fenomena di Pulau Bengkalis ha­rus menjadi peringatan bagi Indone­sia. Sebab, sangat mungkin terjadi di pulau-pulau dan pantai-pantai lain di Tanah Air. Ini yang perlu diantisipasi.

Riko juga menjelaskan, terjadi­nya permukaan tanah (subsidence) di pulau-pulau yang menjadi objek alih fungsi lahan disebabkan oleh adanya peristiwa over-drainage, yakni feno­mena keluarnya air dari dalam tanah secara berlebihan yang disebabkan oleh perubahan fisik tanah gambut karena adanya perubahan vegetasi akibat alih fungsi menjadi lahan sa­wit, kebakaran lahan, dan pemba­ngunan infrastruktur yang tidak tepat.

“Gambut, mangrove, semua di­habisi untuk sawit. Jadi jangan hanya abrasi yang dilihat, subsidence telah menjadi ancaman nyata. Kalau abrasi saja, kita khawatir keluar uang banyak, ratusan miliar, untuk bangun tanggul. Padahal, bukan itu masalah utama­nya, tapi subsidence,” papar Riko.

Riko mengingatkan ada 215 ribu jiwa yang tinggal di enam pulau gam­but di Provinsi Riau. Mereka semua da­lam jangka waktu lama telah terbukti mampu beradaptasi di lahan gambut. Bahkan sebelum lahan diubah jadi konsesi untuk pengusaha sawit, me­reka semua adalah cluster (lumbung) sagu di Riau. Mereka juga menghasil­kan kelapa dan karet dan tanaman hu­tan lain yang sesuai dengan karakter lahan gambut. YK/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment