Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Kebakaran Lahan I Karhutla di Bintan karena Faktor Kesengajaan

100 Hektare Lahan Gambut Hangus di Musi Banyuasin

100 Hektare Lahan Gambut Hangus di Musi Banyuasin

Foto : ANTARA/NATHAN/LMO
ASAP MEMBUMBUNG I Asap membumbung tinggi dari lahan yang terbakar di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (14/8). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mengoperasionalkan tiga helikopter untuk memadamkan kebakaran tersebut.
A   A   A   Pengaturan Font
Titik api baru mulai terdeteksi Rabu (14/8) pagi setelah memantau melalui satelit Lapan dan dikonfirmasi oleh tim patroli udara.

 

PALEMBANG - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menghanguskan seki­tar 100 hektare lahan gambut di Desa Muara Medak, Keca­matan Bayung Lencir, Kabu­paten Musi Banyuasin, Suma­tera Selatan.

“Untuk luasan pastinya be­lum dapat laporan dari tim darat, namun diperkirakan sekitar 100 ha. Secara fisik asapnya sangat tebal, namun api tidak terlihat. Sudah kita kerahkan tiga helikopter untuk water bombing,” kata Kepala Bidang Penanganan Darurat Badan Penanggulangan Ben­cana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori, Rabu (14/8).

Ansori menjelaskan titik api baru mulai terdeteksi Rabu (14/8) pagi setelah meman­tau melalui satelit Lapan dan dikonfirmasi oleh tim patroli udara. Titik api, kata dia, di­duga muncul dari lahan milik warga yang merembet ke lahan perkebunan milik perusahaan.

“Tim pemadam darat kesuli­tan mencapai lokasi kebakaran karena wilayah gambut dan jauh dari lokasi permukiman.”

Sementara itu, Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan Pemkab Muba segera melakukan tindakan yang te­gas dalam upaya penanggu­langan karhutla tahun ini.

“Saya sudah menugaskan wakil bupati untuk segera tu­run ke Bayung Lencir untuk mengumpulkan perusahaan-perusahaan dan kita paksa mereka untuk segera action langsung,” katanya.

Dibakar Orang

Sementara itu, di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulau­an Riau, sejak Januari hingga Agustus 2019, luas hutan dan lahan terbakar sekitar 1.500 hektare. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bintan mencatat kebakaran lahan kebanyakan dibakar orang tidak bertang­gung jawab.

“Sekitar 90 persen kebakaran terjadi karena faktor kesengajaan manusia,” ujar Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Keca­matan Gunung Kijang, Teluk Bintan, dan Toapaya, Nurwen­di, Rabu.

Akibat Asap

Sementara itu, kematian dini akibat asap karhutla bisa mencapai angka 36.000 ribu jiwa per tahun pada periode 2020 hingga 2030. Angka terse­but akan terjadi bila pengen­dalian karhutla tidak berjalan maksimal.

“Dari angka itu 92 persen kasus kematian dini diperki­rakan akan terjadi di Indone­sia, 7 persen di Malaysia, dan 1 persen di Singapura. Hasil ini merupakan penelitian gabungan kami dari Harvard University dan Columbia University,” kata peneliti dari Harvard Univer­sity, Tianjia Liu, saat memapar­kan penelitiannya di Jakarta.

Hasil penelitian tersebut diperoleh dari dampak perse­baran polutan PM2.5 akibat asap karhutla. Partikel polutan tersebut menyebabkan masyarakat terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Dampak kesehatan sangat berkaitan dengan konsentrasi kuat PM2.5. Paparan polutan yang berbahaya ini akan me­ningkatkan kematian dini,” tambah Tianjia dalam pene­litian berjudul Fires, Smoke Exposure, and Public Health: An Integrative Framework to Maximize Health Benefits from Peatland Restoration.

Sebelumnya, Komisi Pem­berantasan Korupsi (KPK) me­nyatakan bisa terlibat dalam persoalan karhutla karena ada kerugian negara dalam peris­tiwa itu. eko/Ant/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment