Koran Jakarta | October 16 2018
No Comments

“Yo, Ayo”: Berpeluk dan Sejuk

“Yo, Ayo”: Berpeluk dan Sejuk

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Apakah Asian Games bisa diperpanjang barang seminggu saja? Kalaupun tak ada tambahan medali yang dibagi, cukuplah dengan adanya kegembiraan yang ditimbulkan.

Ungkapan ini tidak berlebihan, manakala dikaitkan dengan adanya sikap optimistis, berdasarkan hasil Asian Games yang akan berakhir besok.

Rangkaian drama demi drama membuat kita sebagai tuan rumah menjadi bangga dan terpompa semangat nasionalisme seakan belum pernah dirasakan bersama.

Terutama dengan drama megah ketika dua capres yang akan berlaga tahun depan, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, berpelukan dalam balutan bendera Merah Putih.

Ini terjadi tanpa direncanakan ketika pesilat Hanifan Yudani Kusumah, 20 tahun, berlari ke podium VVIP, setelah mengalahkan lawannya dan dinyatakan menang dengan medali emas.

Hanifan berlari mengelilingi lapangan dengan bendera Merah Putih, kemudian menghormat kepada Ibu Megawati, Presiden ke-5 RI, kepada Wapres Jusuf Kalla, para petinggi lainnya, dan klimaksnya berpelukan dengan Jokowi, Prabowo, sebelum akhirnya bertiga berpelukan.

Aura sejuk seketika terasakan dalam gegap gempita, tepuk tangan, dan terutama pancaran wajah-wajah gembira penuh senyum, tawa, bahagia.

Sungguh luar biasa, dan bukan sebuah kebetulan. Keberadaan para petinggi di tempat itu mempunyai alasan. Dan peristiwa drama yang menyatukan tokoh nasional benar-benar menyejukkan.

Suasana politik yang panas dan terus meninggi, seketika cles, sejuk, lembut, menyegarkan. Olahraga memperlihatkan kesaktiannya: olahraga bukan hanya soal medali, bukan hanya soal skor, bukan hanya soal kecepatan, ketinggian atau kejauhan semata.

Olahraga mampu menyatukan pada hal-hal yang baik. Permusuhan, kebencian, “politik identitas”, terlupakan. Jojo—Jonathan Christie, pemenang medali emas badminton tunggal pria, tidak dipersoalkan lagi apakah memperlihatkan tanda salib ketika mensyukuri kemenangan.

Yang muncul justru cuitan Jojo saat membuka kaos dan telanjang dada. Komentar “emak-emak”, sebutan yang akan terus diucapkan, menyebutkan sebagai “menghangatkan rahim”.

Ini istilah lain yang mengganti kata bergairah. Dan ketika pelukan dalam Merah Putih, ungkapan yang muncul adalah: menghangatkan rahim Ibu Pertiwi. Suasana kebersamaan menjadi menonjol dan terasakan justru persatuan di atas segalanya.

Kemenangan Jojo, kemenangan Hanifan adalah kemenangan semua anak bangsa. Teriakan kegembiraan untuk Indonesia. Dalam kalimat yang sempat terucap oleh Prabowo Subianto:

“Kalau untuk kepentingan nasional, kita harus bersatu.” Kalau untuk kepentingan nasional, agaknya juga termasuk pemilihan presiden. Pemilihan presiden bukan menjadi pembeda antara saya dengan kamu.

Bahwa kamu bukan saya, dan saya bukan kamu. Bahwa kita bermusuhan dalam hal apa pun. Kalau untuk kepentingan nasional, pelukan itu bermakna besaar dan mempengaruhi.

Sekurangnya di akar rumput, juga di ring politik yang dekat dengan kekuasaan, ikut menjadi sejuk. Itu yang terasakan. Sehingga muncul keinginan agar Asian Games diperpanjang.

Sebagai harapan, sebagai humor, sebagai tanda mengakui yang sekarang ini baik adanya, dan bisa lebih baik lagi.

Kalau untuk kepentingan nasional kita jadikan dasar pendekatan, rasanya masih akan kita temukan tanda-tanda itu sampai dengan penutupan besok. Atau jauh sesudah itu. Semoga tambah sejuk, tambah peluk.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment