Koran Jakarta | September 24 2018
No Comments

“Tik Tok” Rontok Muda

“Tik Tok” Rontok Muda

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Tik Tok adalah nama aplikasi yang bisa dipakai untuk tayangan video di media sosial, termasuk telepon genggam.

Aplikasi ini memberi efek khusus, sehingga visual menjadi menarik, lucu, banyak gerak. Yang ketika digabung dengan gambar lain—yang diambil pada saat lain, tempat lain, seolah menjadi satu bagian.

Pada hasil akhir ada rangkaian gambar yang lucu, haru, tapi juga , sedikit mengkhawatirkan. Tik Tok sebagai aplikasi sangat mudah dan bisa dipergunakan anak-anak.

Dan memang mereka yang masih kanak-kanaklah yang suka memamerkan wajahnya menjadi berkumis, bertaring, bersama bintang pujaan atau siapa saja, menyanyi bersama lagu yang paling top, dengan gerakan menari, meloncat, atau terbang. Contoh hasil Tik Tok yang viral adalah layar dibagi dua.

Satu bagian ada pedagang kaki lima, dengan pikulan, sebelahnya, gadis cantik. Si Abang bertanya: Dik, adik menjual pelampung? Si Dedek (istilah panggilan untuk adik) menjawab:

Buat apa Bang? Jawab pedagang pikulan: Untuk menjaga agar tidak tenggelam di hatimu. Lalu, gambar adegan pedagang asongan malu, berlari, meloncati, dan melewati apa saja.

Juga di Dedek yang kaboor, (begitu kalau dituliskan, bukannya kabur), sampai melewati meja kursi. Tik Tok memiliki aplikasi untuk adegan ini. Juga kalau, misalnya, anak remaja sedang salat, mengaji, atau menyanyi, atau apa saja.

Gerakannya bisa dibuat alay, dibuat berlebihan. Kegiatan yang menggunakan aplikasi buatan Tiongkok ini sempat melahirkan pujaan yang bernama Bowo Alpenliebe.

Bowo sayang, usia 13 tahun. Cowok ini menyanyi bersama siapa saja, dan mempesona. Sehingga di usia semuda itu, tanpa prestasi apa pun selain beken di Tik Tok, bisa mengadakan meet and greet, jumpa fans.

Fans membayar antara 80k hingga 100k. Sedemikian “dewa” Prabowo Mondardo sehingga fansnya “menuhankan”. Jangan terlalu ambil serius, karena ini ucapan anak-anak yang baru mau gede, yang berkomunikasi melalui dunia internet.

Kisah Bowo kemudian “menyerempet” dunia politik, ketika dikaitkan dengan nama Prabowo Subianto berkaitan dengan bayaran untuk foto Tik Tok adalah nama aplikasi yang bisa dipakai untuk tayangan video di media sosial, termasuk telepon genggam.

Aplikasi ini memberi efek khusus, sehingga visual menjadi menarik, lucu, banyak gerak. Yang ketika digabung dengan gambar lain—yang diambil pada saat lain, tempat lain, seolah menjadi satu bagian.

Pada hasil akhir ada rangkaian gambar yang lucu, haru, tapi juga , sedikit mengkhawatirkan. Tik Tok sebagai aplikasi sangat mudah dan bisa dipergunakan anak-anak.

Dan memang mereka yang masih kanak-kanaklah yang suka memamerkan wajahnya menjadi berkumis, bertaring, bersama bintang pujaan atau siapa saja, menyanyi bersama lagu yang paling top, dengan gerakan menari, meloncat, atau terbang.

Contoh hasil Tik Tok yang viral adalah layar dibagi dua. Satu bagian ada pedagang kaki lima, dengan pikulan, sebelahnya, gadis cantik. Si Abang bertanya: Dik, adik menjual pelampung? Si Dedek (istilah panggilan untuk adik) menjawab:

Buat apa Bang? Jawab pedagang pikulan: Untuk menjaga agar tidak tenggelam di hatimu. Lalu, gambar adegan pedagang asongan malu, berlari, meloncati, dan melewati apa saja.

Juga di Dedek yang kaboor, (begitu kalau dituliskan, bukannya kabur), sampai melewati meja kursi. Tik Tok memiliki aplikasi untuk adegan ini.

Juga kalau, misalnya, anak remaja sedang salat, mengaji, atau menyanyi, atau apa saja. Gerakannya bisa dibuat alay, dibuat berlebihan. Kegiatan yang menggunakan aplikasi buatan Tiongkok ini sempat melahirkan pujaan yang bernama Bowo Alpenliebe.

Bowo sayang, usia 13 tahun. Cowok ini menyanyi bersama siapa saja, dan mempesona. Sehingga di usia semuda itu, tanpa prestasi apa pun selain beken di Tik Tok, bisa mengadakan meet and greet, jumpa fans. Fans membayar antara 80k hingga 100k.

Sedemikian “dewa” Prabowo Mondardo sehingga fansnya “menuhankan”. Jangan terlalu ambil serius, karena ini ucapan anak-anak yang baru mau gede, yang berkomunikasi melalui dunia internet.

Kisah Bowo kemudian “menyerempet” dunia politik, ketika dikaitkan dengan nama Prabowo Subianto berkaitan dengan bayaran untuk foto bersama. Semua dengan mudah terbantah, namun Tik Tok terlanjur dianggap buruk pengaruhnya bagi anak-anak, dan kena blok.

Aplikasi tak lagi bisa digunakan. Tik Tok rontok sebelum bersemi. Tik Tok mati muda. Sementara. Saya tak suka, dan tak menggunakan Tik Tok. Tapi saya tidak sependapat untuk meniadakan.

Tik Tok pada dasarnya sama dengan aplikasi lain, seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau sejenisnya. Bisa untuk kebaikan, bisa untuk menjelekkan, untuk mempertanyakan nilai-nilai yang ada.

Tindakan “mengharamkan” Tik Tok tak banyak berarti, karena yang sejenis dengan itu, akan selalu lahir. Teknologi komunikasi tak pernah bisa sepenuhnya dihentikan.

Yang lebih memprihatinkan justu kebiasaan masyarakat kita. Bahkan, kini sudah merambah dunia anak-anak, di mana seorang Bowo bisa di-bully, bisa diserang habis-habisan, diledek, direndahkan.

Tebersit kekuatiran, kenapa perilaku kebencian begitu mudah menyambar dan menyebar. Penanganan ini lebih menyelesaikan masalah dibandingkan dengan menutup hasil teknologi komunikasi, yang memiliki dinamika pertumbuhannya sendiri, seperti adanya televisi, telepon, atau tele-tele yang lain.

Pemerintah, dalam hal ini Kemenkominfo, selalu tergagap-gagap menyikapi, tanda tak siap.bersama. Semua dengan mudah terbantah, namun Tik Tok terlanjur dianggap buruk pengaruhnya bagi anak-anak, dan kena blok.

Aplikasi tak lagi bisa digunakan. Tik Tok rontok sebelum bersemi. Tik Tok mati muda. Sementara. Saya tak suka, dan tak menggunakan Tik Tok. Tapi saya tidak sependapat untuk meniadakan.

Tik Tok pada dasarnya sama dengan aplikasi lain, seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau sejenisnya. Bisa untuk kebaikan, bisa untuk menjelekkan, untuk mempertanyakan nilai-nilai yang ada.

Tindakan “mengharamkan” Tik Tok tak banyak berarti, karena yang sejenis dengan itu, akan selalu lahir. Teknologi komunikasi tak pernah bisa sepenuhnya dihentikan.

Yang lebih memprihatinkan justu kebiasaan masyarakat kita. Bahkan, kini sudah merambah dunia anak-anak, di mana seorang Bowo bisa di-bully, bisa diserang habis-habisan, diledek, direndahkan.

Tebersit kekuatiran, kenapa perilaku kebencian begitu mudah menyambar dan menyebar.

Penanganan ini lebih menyelesaikan masalah dibandingkan dengan menutup hasil teknologi komunikasi, yang memiliki dinamika pertumbuhannya sendiri, seperti adanya televisi, telepon, atau tele-tele yang lain.

Pemerintah, dalam hal ini Kemenkominfo, selalu tergagap-gagap menyikapi, tanda tak siap.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment