Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments
Direkorat Jenderal Pemasyarakatan, Sri Puguh Budi Utami, tentang Pelarian Narapidana Lapas Lambaro Aceh

“Tidak Semua Narapidana Ingin Kabur”

“Tidak Semua Narapidana Ingin Kabur”

Foto : ISTIMEWA
Sri Puguh Budi Utami
A   A   A   Pengaturan Font
Sebanyak 113 narapidana penghuni Lapas Kelas II A Lambaro, Banda Aceh, berhasil melarikan diri pada Kamis (29/11), sekitar pukul 18.30 WIB. Mereka kabur dengan cara mendobrak pagar, pintu, dan jendela yang mengarah ke luar lapas.

Sebanyak 12 penjaga tahanan yang bertugas saat itu tidak mampu membendung laju narapidana yang kabur menjelang petang tersebut. Informasi terbaru, sebanyak 38 narapidana berhasil ditangkap kembali pada Sabtu (1/12). Total ada 64 orang yang sudah tertangkap, bila ditambah dengan 26 orang yang tertangkap pada Jumat lalu.

Terhadap kasus pelarian narapidana tersebut, berikut penjelasan Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, Sri Puguh Budi Utami, kepada wartawan Koran Jakarta, Eko Nugroho. Berikut petikannya.

Bagaimana sikap Anda terhadap ratusan narapidana yang masih melarikan diri?

Kami mengimbau narapidana yang masih belum tertangkap, secara sukarela segera kembali ke Lapas dan melanjutkan sisa pidana dengan baik.

Terhadap Kepala Lapas dan jajarannya, apa tindakan Anda?

Kepada Kalapas dan jajaran untuk memeriksa ulang dengan saksama, juga melakukan analisis bagian mana saja dalam lapas yang rawan pelemahan dan berpotensi menjadi jalur gangguan kamtib (keamanan dan ketertiban), khususnya pelarian.

Selain itu?

Kami juga melakukan dialog dengan narapidana yang telah tertangkap, di sel hunian mereka yang terpisah dengan narapidana lainnya. Kami sampaikan agar mereka tidak mengulangi kembali tindakan pelanggaran hingga melarikan diri. Dan kami imbau mereka untuk mengikuti pembinaan dengan baik sampai selesai masa pidana. Kami katakan apabila kalian berperi laku baik dan mengikuti peraturan dan pembinaan secara patuh maka reward akan diberikan, seperti remisi dan hak lainnya, begitu juga sebaliknya.

Apa penyebab para narapidana kabur?

Tidak semua napi ingin kabur. Kami tanya 26 orang yang tertangkap, mereka mengaku tidak mau lari, tapi diajak lari temantemannya. Ada 300 warga binaan yang salat di masjid. Yang lari itu adalah mereka yang ada di masjid. Rutan Aceh ini luar biasa dan berbeda dengan di luar Aceh. Kearifan lokal diangkat betul dan mereka diizinkan untuk melaksanakan salat berjamaah. Petugas memberikan keistimewaan untuk napi melaksanakan salat magrib berjamaah, namun ternyata malah dimanfaatkan oleh beberapa oknum napi untuk melarikan diri.

Siapa yang menjadi dalang pelarian narapidana?

Dalang dari larinya 113 napi itu sedang dalam pendalaman oleh pihak kepolisian di jajaran Polda Aceh dan kami berterima kasih kepada pihak kepolisian yang dengan sigap membantu kami menangkap para napi yang kabur tersebut.

Berapa kapasitas Lapas Banda Aceh tersebut?

Lapas Lambaro kapasitasnya 800 orang. Lapas masih dalam batas kapasitas menampung para napi. Saat kejadian isinya 726 orang, sehingga masih dalam batas kapasitas. Masih memungkinkan, bukan over kapasitas. Jumlah pegawai di lapas sendiri tercatat 116 orang. Hanya saja saat kejadian napi kabur, pegawai lapas hanya 12 orang di lokasi. Melihat di Lapas maupun rutan lain, jumlah pegawai di sana itu 116 cukup memadai dengan 726 warga binaan.

Terhadap narapidana yang masih kabur?

Kami telah membentuk satgas yang bekerja sama dengan kepolisian dan TNI untuk pengejaran.

Bagaimana kronologis pelarian para penguhuni Lapas?

Pada hari Kamis (29/11), sekitar pukul 18.25 WIB, warga binaan pemasyarakatan (WBP) dengan jumlah kurang lebih 300 orang melewati pos blok untuk melaksanakan solat maghrib berjamaah di masjid dalam Lapas. Kegiatan salat magrib berjamaah tersebut merupakan kegiatan pembinaan yang disesuaikan dengan kearifan lokal pelaksanaan perda syariat islam yang sudah berjalan beberapa bulan.

Pada pukul 18.30 WIB, saat azan magrib berkumandang para warga binaan tersebut terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok satu menuju masjid, sementara kelompok yang satunya lagi menuju pagar ornames depan poliklinik samping sel karantina, dimana salah seorang napi mengambil barbel tangan dari semen yang digunakan untuk menghantam pagar ornames tersebut dengan tujuan membuat jalan untuk kabur.

Kabarnya petugas sempat diserang?

Melihat kejadian tersebut, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka KPLP) beserta empat petugas lainnya yang sedang duduk duduk di depan pos karupam berlari ke depan poliklinik dan menahan pagar ornames yang mulai jebol dan mencegah warga binaan melarikan diri. Tiba-tiba ada warga binaan yang menyiram air cabai ke arah Ka KPLP dan petugas sehingga para petugas tersebut mundur ke area Penjaga Pintu Utama (P2U) dan mengunci dari dalam. 

 

eko nugroho/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment