“The New Normal” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments

“The New Normal”

“The New Normal”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pandemi Covid-19 yang melanda dan mengancam umat manusia secara global telah mengubah cara berpikir, berperilaku, dan berelasi kita dengan orang lain dan lingkungan. Pandemi virus korona ini telah membentuk kehidupan “normal yang baru”. Hal yang tidak normal seperti work from home, pembelajaran jarak jauh, hingga berbisnis dari rumah, akan menjadi gaya hidup baru. Kita pun terbiasa bersosialisasi lewat sarana virtual.

Jutaan siswa di Indonesia terpaksa menimba ilmu dari rumah masing-masing. Para guru pun terpaksa putar otak agar kegiatan belajar tidak terganggu. Pandemi Covid-19 juga telah mengubah rutinitas kita sehari-hari. Pandemi korona ini telah membentuk kebiasaan baru kita saat pulang ke rumah, yakni langsung mencuci tangan dan berganti pakaian. Tak ada cium pipi kanan-kiri saat bertemu rekan atau teman serta tak ada pelukan hangat saat bertemu sanak keluarga.

Bagi pria muslim, the new normal bisa berarti tidak ada lagi salat jumat di masjid. Atau bagi umat Kristen dan Katolik tak ada lagi misa ke gereja dan harus berpuas diri beribadah secara virtual. Kita pun dipaksa untuk memiliki kebiasaan baru, yang dulunya menggunakan handphone hanya untuk berkomunikasi, kini mulai fasih berbelanja online. Jika sebelumnya menggunakan laptop hanya untuk membuka aplikasi perkantoran, kini khatam atau mahir menuntun anak bersekolah dengan layanan kelas daring dan konferensi video.

Bahkan, dalam hal transaksi yang sebelumnya menggunakan uang tunai, kini lazim memanfaatkan dompet elektronik. Covid-19 berhasil membuat mereka yang gaptek menjadi jauh lebih fasih berdigital, mengurung diri secara sukarela traveler sejati, dan membuat banyak orang yang tak peduli kesehatan untuk cuci tangan lebih sering. Kalau kita enggak adaptasi dengan cara hidup baru, kita enggak akan bertahan menghadapi Covid-19. Gaya baru ini kita kenal dengan istilah pola hidup bersih sehat. Cuci tangan, pakai masker, hindari kerumunan, jaga imunitas dengan istirahat, aktivitas seimbang, asupan gizi baik, kendalikan penyakit ini, harus kita biasakan .

Kita berharap warga terbiasa dengan gaya hidup tersebut. Pandemi global ini, bukan hanya Covid-19, tapi penyakit lain yang penularannya mirip Covid-19, melalui makanan dan pencernaan karena kita hidup bersih, bisa dikendalika. Kengerian yang disebarkan korona ini juga yang membuat banyak orang memiliki kebiasaan baru. Mulai dari kebiasaan mengonsumsi buah, ramuan traditional (jamu) dan suplemen kesehatan dengan lebih rutin, berolahraga di rumah, masak makanan sendiri di rumah, hingga kebiasaan berdoa bersama keluarga di rumah. Harus diingat, menyerah pada keadaan, bukan pilihan.

Covid memang punya dampak yang begitu sistemik, bukan hanya dari sisi kesehatan, tapi juga perekonomian. Ketika miliaran orang di seluruh dunia mengurangi aktivitasnya dan menghabiskan hampir dari seluruh waktunya di rumah, maka roda ekonomi pun melambat. Tetapi, masyarakat dituntut harus tetap bisa produktif. Covid-19 memang belum ada anti-virusnya, tapi kita bisa mencegahnya. Kita harus jalani kehidupan ini dan selalu waspada karena virus korona mengintai kita setiap saat. Untuk bertahan, kita harus bisa beradaptasi dengan “gaya hidup normal baru” atau the new normal ini .

Saat ini, kita memang dihadapkan pada pilihan sulit, yaitu mengutamakan kesehatan atau dampak ekonomi. Keduanya memiliki konsekuensi dan risikonya tersendiri. Di antara pilihan itu, kita kerap mengambil jalan tengah dengan model mengombinasikan kedua pilihan tersebut. Ambigu. Itu juga yang terlihat dari kebijakan pemerintah. Mudik sudah dinyatakan dilarang, tetapi nampak berlawanan dengan kemungkinan adanya arus pulang kampung, disebabkan kondisi ekonomi sudah tidak bisa dipertahankan. Ruwet memang. Pergerakan publik dibatasi, tetapi sarana transportasi sudah dibuka. Irama pemerintah pusat dan daerah kerap tidak sehaluan.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment