Koran Jakarta | June 21 2018
No Comments
JENAK

“Saya Tidak Akan Korupsi”

“Saya Tidak Akan Korupsi”

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Sebenarnya agak malas membicarakan korupsi, namun para koruptor tidak malas melakukan kegiatannya. Sebenarnya sudah banyak contoh para koruptor tertangkap, ditahan, dipermalukan—atau mempermalukan diri di depan publik, ditahan, dan kejahatannya dibicarakan ulang.

Namun, para koruptor lainnya tidak merasa itu sebagai peringatan. Masih saja terjadi. Masih saja diributkan. Dan masih ada bantahan. Bulan Februari ini saja—atau kalau mau lebih banyak dihitung sejak awal tahun, beberapa pejabat tertangkap Operasi Tangkap Tangan. Tertangkap basah dengan barang bukti dan susah dibantah. Polanya cenderung sama: menggarong uang “proyek”, atau “jual beli jabatan”.

Yang pertama melibatkan kepala daerah, pejabat pemda, DPRD, dan pihak swasta. Yang kedua—nominalkan lebih kecil biasanya, melibatkan kepala daerah dengan pejabat pemerintah daerah. Jumlahnya kadang mencapai belasan orang, seperti di Lampung Tengah, atau beberapa orang sekaligus yang “tercyduk”.

Pola pengingkarannya selalu sama. Di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi, dengan jaket oranye tanpa kehilangan senyum berujar bahwa sebenarnya ini bukan tindak korupsi. Bahkan bersumpah atas nama Sang Maha Kuasa. Seberapa jahat atau busuknya korupsi sudah dimengerti, sudah difahami.

Bahwa ini tindak kejahatan yang kelewat-lewat, extra ordinary crime, bahwa korban korupsi adalah hajat hidup rakyat banyak, dan berbagai bla-bla-bla lainnya, termasuk kutipan pasalpasal. Artinya, calon koruptor tahu persis yang dilakukan adalah jahat, busuk, jahanam. Dan tidak dirasakan sendirian karena ada yang melakukan bersama—termasuk pihak swasta.

Dan pastilah melalui pembicaraan berulang kali, penegasan angka, tempat lokasi— walau disamarkan dengan kata religi sekalipun. Dengan kata lain, mereka melakukan kejahatan dengan rencana, sadar akan sanksi dan tentu saja keuntungannya. Pertanyaan menarik lainnya: kenapa tetap melakukan walau mengetahui hal yang terburuk sekalipun?

Dalam salah satu bincang televisi saya mencoba menjawab: harusnya yang diajarkan itu kalimat: saya tak akan korupsi. Bukan semata mempelajari korupsi itu apa, atau kenapa melakukan. Karena alasan seperti: gaji gubernur kecil maka terjadilah korupsi, atau bahkan “kalau tak korupsi mana bisa ada proyek”, atau bahwa korupsi selalu dan akan terjadi.

Menurut saya, alasan apa pun tidak bisa dibenarkan untuk melakukan tindak korupsi. Tidak ada pembenaran dengan dalil apa pun. Close captions. Tafsir pembenaran telah ditutup. Saya tak akan korupsi, itu yang harus dilakukan. Saya sadar sepenuhnya ini menjadi nyinyir, menjadi tidak berarti apa-apa karena selalu ada dorongan untuk korupsi. Apalagi di tahun politik dengan segala kegiatan pilkada. Sampai generasi korupsi ini menipis—atau habis.

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment