Koran Jakarta | September 25 2018
No Comments
Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead, tentang Kemajuan Restorasi Lahan Gambut

“Sampai September Ini Lahan yang Sudah Direstorasi 140 Ribu Hektare”

“Sampai September Ini Lahan yang Sudah Direstorasi 140 Ribu Hektare”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Badan Restorasi Gambut (BRG) melibatkan pihak swasta dan masyarakat dalam melakukan restorasi lahan gambut. Pelibatan pihak swasta dan masyarakat ini sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo demi memenuhi target dua juta hektare restorasi lahan gambut pada 2020 mendatang.

 

Target dua juta hektare restorasi lahan gambut untuk tahun 2020 itu meliputi tujuh provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Pada tahun 2016 lalu, BRG sudah melakukan restorasi 200.000 hektare lahan.

Tahun ini, jumlahnya ditargetkan naik menjadi 650.000 lahan. Sebanyak 250.000 hektare lahan dikerjakan menggunakan APBN, sementara 400.000 lainnya akan digarap swasta. Keterlibatan swasta dan masyarakat dalam melakukan restorasi membuat proses restorasi gambut di lapangan relatif tidak menemui masalah yang berarti.

Badan Restorasi Gambut optimistis bisa mencapai target yang sudah ditetapkan. Perlindungan dan pemulihan fungsi ekologis kubah gambut sangat penting dan jadi prioritas bersama untuk mencegah terulangnya kebakaran di lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan.

Kebakaran di lahan gambut harus kita cegah sedini mungkin karena jelas akan menimbulkan dampak yang luar biasa. Untuk mengetahui sejauh mana langkah Badan Restorasi Gambut dalam menjalankan tugas yang diinstruksikan oleh Presiden Jokowi tersebut, Koran Jakarta berhasil mewawancarai Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead, Senin (11/9). Berikut petikannya.

Tahun ini, Badan Restorasi Gambut ditargetkan melakukan restorasi di 650.000 lahan. Sebanyak 250.000 hektare lahan dikerjakan menggunakan APBN, sementara 400.000 lainnya akan digarap swasta. Bagaimana perkembangan restorasi lahan gambut tahun ini? Apa saja yang telah dikerjakan oleh Badan Restorasi Gambut?

Sudah mulai berjalan kegiatan fisik di lapangan, seperti pembangunan sumur bor, pembangunan kanal. Lalu, di berbagai tempat juga berjalan baik dikerjakan oleh mitra-mitra kita, pemerintah daerah, universitas dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kawasan mana saja yang sudah direstorasi oleh Badan Restorasi Gambut?

Ada Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan itu dikerjakan oleh Kementerian PUPR. Lalu di Sumatera Selatan, Jambi, Riau itu ditangani oleh pemerintah daerah, universitas dan masyarakat. Pokoknya, target kita adalah lahan gambutnya luas dan gambut yang terbakar.

Sampai pertengah September 2017 ini, sudah ada berapa hektare lahan yang sudah direstorasi?

Masih kita hitung, tapi kalau sampai akhir September ini sudah 140 ribu hektare.

Bisa Anda menjelaskan, pihak atau perusahaan mana yang tidak peduli dengan restorasi gambut?

Untuk perusahaan sebagaimana peraturan menteri yang dikeluarkan Menteri LHK pada Februari lalu, yang langsung ditindaklanjuti, perusahaan-perusahaan telah melakukan revisi rencana kerja agar sesuai dengan kewajiban restorasi gambut.

Menurut laporan staf khusus menteri, sudah ada 80–90 perusahaan HTI menyerahkan revisi rencana kerja mereka, lalu 60 perusahaan perkebunan. Saya sangat mengapresiasi niat baik perusahaan dalam menyesuaikan rencana kerja mereka dengan peraturan menteri.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa target restorasi lahan gambut tahun ini 650.000 lahan. Sebanyak 250.000 hektare lahan dikerjakan menggunakan APBN, sementara 400.000 lainnya akan digarap swasta. Apa tugas utama pemerintah untuk mencapai target itu?

Kita pemerintah memberikan arahan, kebijakan seperti apa, orientasi, pelatihan, juklaknya. Sisanya nanti dilakukan pemerintah bekerja sama dengan PUPR, pemda, universitas, dan masyarakat.

Lalu, anggarannya dari mana?

Untuk anggaran setelah penyesuaian ada 425 miliar rupiah. Ada juga dana hibah dari Norwegia, Inggris, German, Uni Eropa, Jepang, Korea, dan Australia.

Pertanyaan terakhir, apakah masih ada kebakaran di lahan gambut saat ini, seperti apa?

Iya, ini kan musim kemarau dan berbeda di setiap tempat. Tahun 2016, misalnya, pada Agustus kemarau kering di Riau, tapi basah di Garut sehingga terjadi banjir. Ini ekstrem. Di AS juga hujan badai, di pantai barat kebakaran sampai September sudah 3,2 juta hektare lahan.

Kita kecil, tapi saya enggak bilang tidak ada kebakaran karena, menurut data yang ada masih ada. Tapi, kita terus mencoba mengatasinya. Kebakaran gambut tahun 2015 ada sekitar 36 persen, tahun 2016 turun jadi 19 persen, dan 2017 ini ada di bawah 10 persen. m umar fadloli/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment