Koran Jakarta | August 21 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Indonesia Jadi Importir Gula Terbesar Dunia

“Rent Seeking” Impor Gula Perburuk Defisit Perdagangan

“Rent Seeking” Impor Gula Perburuk Defisit Perdagangan

Foto : Sumber: Statista.com - koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

>>Segala upaya tekan defisit perdagangan telah dilakukan, kecuali memerangi perburuan rente.

>>Rent seeking meraup untung besar-besaran, tapi membunuh petani dan industri dasar.

JAKARTA - Indonesia, berdasarkan data Statista, tercatat sebagai negara pengimpor gula terbesar di dunia perio­de 2017–2018 dengan volume sebanyak 4,45 juta ton. Sedangkan Tiongkok men­jadi importir gula terbesar kedua de­ngan volume 4,2 juta ton, diikuti Ame­rika Serikat (AS) di urutan ketiga dengan volume impor 3,11 juta ton.

Hal itu diungkapkan oleh ekonom senior Universitas Indonesia, Faisal Basri, melalui akun Twitter, Rabu (9/1). Faisal mengemukakan menjelang pe­milihan umum (pemilu) serentak pada April nanti, tiba-tiba Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di dunia. Dia pun mengingatkan pemerintah bahwa praktik perburuan rente atau rent seek­ing yang sangat masif pada impor gula tersebut berpeluang memperparah de­fisit neraca perdagangan Indonesia. “Praktik rente gila-gilaan seperti ini ber­kontribusi memperburuk defisit perda­gangan,” tegas Faisal.

Menurut dia, pemerintah sebenar­nya telah melakukan segala upaya un­tuk menekan defisit perdagangan, ke­cuali memerangi praktik perburuan rente tersebut. Faisal memaparkan sejak Indonesia merdeka, defisit perdagangan terjadi hanya tujuh kali. Dan, defisit per­dagangan terburuk sepanjang sejarah terjadi pada 2018.

Pada Januari–November 2018, defisit perdagangan mencapai 7,5 miliar dollar AS. “Ini sejarah baru Indonesia, defisit perdagangannya sudah mencapai 7,5 mi­liar dollar AS,” ujar Faisal, belum lama ini.

Terkait dengan impor gula, Koran Jakarta, edisi 22 Desember 2018, juga telah mewartakan bahwa Indonesia ter­catat sebagai importir gula terbesar du­nia pada 2017 dengan nilai impor men­capai 2,3 miliar dollar AS atau 7,8 persen dari total impor dunia.

Berdasarkan data dari laman World’s Top Export itu, Thailand menjadi pe­masok gula terbesar di Indonesia de­ngan nilai 1,2 miliar dollar AS atau me­ningkat 77,6 persen dari tahun 2013.

Media South China Morning Post (SCMP) juga menyebutkan Indonesia saat ini sebenarnya merupakan impor­tir gula terbesar dunia, bukan Tiongkok. Memang pada 2015–2016, menurut data WorldAtlas.com, Tiongkok merupakan importir gula terbesar dunia dengan vo­lume impor enam juta ton. Sedangkan Indonesia di urutan kedua dengan vo­lume impor 3,6 juta ton.

Sementara itu, pemerintah dikabar­kan akan mengurangi impor gula pada tahun ini. Kuota impor gula mentah pada 2019 diproyeksikan 2,8 juta ton atau lebih rendah dari kuota pada 2018 sebesar 3,7 juta ton. Data pemerintah itu lebih kecil dibandingkan dengan data yang diungkapkan sejumlah lembaga internasional tersebut.

Menanggapi rencana pemerintah me­mangkas impor gula, sejumlah kalangan mengemukakan negara-negara di dunia biasanya membatasi impor dengan tarif tinggi, namun Indonesia masih menerap­kan tarif paling rendah, di bawah 3 persen.

Perdagangan pun bisanya dilakukan antarnegara yang memiliki hubungan khusus. Contohnya, Uni Eropa dan Ame­rika Serikat (AS) hanya mengimpor dari negara dengan dasar special preferenced treatment, dan mengenakan tarif tinggi.

“Tapi, Indonesia tidak ada hubungan khusus dengan Thailand yang menjadi eksportir gula terbesar di sini. Secara umum, impor ini hanya jadi alat atau bonekanya rent seeking meraup untung sebesar-besarnya, hingga membunuh petani dan industri dasar,” ujar Guru Be­sar Pertanian UGM, Masyhuri.

Rembesan Gula Rafinasi

Sementara itu, kalangan petani tebu menyoroti rembesan gula rafinasi, yang seharusnya hanya untuk industri, ke pasar konsumen. Ini disebabkan mem­banjirnya gula rafinasi impor.

Sekjen Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), M Nur Khabsyan, mengemukakan rembesan gula rafinasi di pasar itu sudah lama terjadi. “Temuan-temuan kita soal rembesan rafinasi di pasar tidak pernah diproses. Tidak ada sanksi, padahal kami sudah lapor ke Ke­mendag dan penegak hukum,” ujar dia.

Menurut dia, rembesan gula rafinasi impor tersebut menyebabkan harga gula di level petani turun hingga di bawah biaya pokok produksi. “Artinya petani rugi. Turunnya harga karena banyak­nya gula yang diimpor. Kondisi ini tentu menghantam gula petani,” jelas Nur.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Univer­sitas Brawijaya (UB), Munawar Ismail, mengemukakan petani Indonesia telah ditekan dari segala sisi akibat berbagai kebijakan perdagangan yang hanya menguntungkan importir dan pedagang. ahm/SB/ers/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment