Koran Jakarta | April 29 2017
No Comments
Staf Khusus Presiden, Lenis Kogoya, tentang Pembangunan Papua

“Membahas Papua Harus dengan Hati yang Dingin”

“Membahas Papua Harus dengan Hati yang Dingin”

Foto : dok koran jakarta
A   A   A   Pengaturan Font
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta setiap kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah atau Pemda harus fokus dan terpadu dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua. Tidak boleh lagi berjalan sendiri-sendiri.

 

Bahkan, untuk peningkatan kesejahteraan warga Papua, Presiden Jokowi telah banyak melakukan terobosan dengan menyamakan harga bahan bakar minyak (BBM), seperti di Jawa serta pembangunan jalan.


Namun, persoalan mengenai PT Freeport Indonesia (PTFI) yang beroperasi di Timika dan tidak kunjung usai, membuat provinsi di timur Indonesia terus dihantui ketidakpastian soal kelanjutan pembangunan untuk kesejahteraan di Papua.


Untuk mengetahui apa yang terjadi di Papua saat ini, Koran Jakarta berhasil mewawancarai Staf Khusus Presiden, Lenis Kogoya, yang juga berasal dari Papua. Berikut petikannya.


Soal pembangunan di Papua ini seperti apa?


Kita dalam membangun Papua ini tidak boleh mengangkat isu-isu yang negatif, artinya dengan mengorbankan masyarakat atau karyawan. Jadi, membantu Papua itu harus dari segi positif.Papua ini kan juga wilayah otonom, makanya kita harus bicarakan dengan Pemda yang baik.


Bagaimana pandangan Bapak terkait keberadaan Freeport untuk pembangunan di Papua?


Terkait Freeport ini kan ada untung ada rugi ya. Kalau bicara untung memang ada yang disekolahkan, ada rumah sakit, terus ada beasiswa yang sampai saat ini berjalan.

Lalu, ruginya adalah Freeport tidak memperhatikan dampak lingkungan, terus kompensasi, masalah hak ulayat, hingga masalah satu persen (pemberian ke pemda).


Lalu, untuk bisa menyelesaikan itu bagaimana?


Jadi begini, soal isu-isu karyawan (Freeport yang di PHK), politik dan pembangunan Papua jangan disalahkan Presiden, salahkan saya aja karena saya sudah ditugaskan menjadi staf khusus mewakili Papua.

Intinya masalah Freeport tanyakan ke saya, jangan lari ke Presiden, masalah pembangunan Papua tanyakan ke saya karena saya memaksa untuk membangun dan menyejahterakan Papua.


Oleh karena itu, nanti akan ada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek itu bisa kita normalkan dulu situasi. Jangka panjangnya kita bisa bicarakan masalah hak ulayatnya, masalah kompensasi, masalah pajaknnya.


Apakah akan ada sosialisasi dengan suku-suku yang ada di Papua?


Iya, saya akan ke Papua membicarakan hal itu dengan suku-suku yang ada. Saya akan menyerap masukan dari berbagai suku di sana dalam penyelesaian masalah Freeport.


Memang diperlukan pendekatan dalam membangun Papua?


Saya minta sekarang tidak boleh ada muncul lagi isu-isu (PHK) karyawan atau masalah politik. Membicarakan Papua ini harus betul-betul dengan hati yang dingin. Tidak boleh ada provokasi.Maksudnya soal Freeport ini murni soal bisnis ekonomi?

Ini murni bisnis. Tidak boleh dicampur aduk dengan politik dan lainnya. Jadi, dalam waktu dekat akan ada tim yang melibatkan masyarakat Papua, pemerintah, dan pihak lainnya untuk selesaikan ini, kita bersama-sama akan selesaikan masalah di sana. m umar fadloli/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment