“Match Fixing” Harus Diberantas secara Bersama-sama | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 10 2019
No Comments
Sekjen Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Ratu Tisha Destria, tentang Kecurangan Pengaturan Skor Pertandingan

“Match Fixing” Harus Diberantas secara Bersama-sama

“Match Fixing” Harus Diberantas secara Bersama-sama

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Upaya serius memberantas kecurangan pengaturan pertandingan (match fixing) terus berjalan di kompetisi sepak bola Indonesia.

 

Kepolisian RI dalam hal ini Satgas Antimafia Bola telah menangkap dan memeriksa pihak-pihak terkait, salah satunya adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Ratu Tisha Destria.

Meski menilai sangat posi­tif langkah tersebut, Ratu Tisha menyatakan PSSI telah memi­liki mekanisme tersendiri untuk mengatasi kecurangan. Dia juga menilai organisasinya tidak bisa berjalan sendirian memerangi kecurangan dalam permainan sepak bola nasional. Berikut petikan wawancara Koran Jakarta dengan Ratu Tisha.

Apa tanggapan Anda tentang tuduhan mafia bola, pengaturan skor yang seakan tak ada pernah berhenti?

PSSI menghilangkan saling tanggap-menanggapi di ruang pub­lik atau di media, tapi memecahkan masalah bersama-sama. Mencari solusi tentang permasalahan yang ada. Seluruh pelanggaran disipilin akan ditangani komite disiplin, pastilah yang melanggar disiplin itu dipanggil Komdis, akan diadili dan mendapatkan ganja­ran sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Apabila hal itu memerlukan hukum positif maka akan dilaporkan ke kepolisian dan itu sudah ada prosedurnya.

Mengapa PSSI tidak pernah mengajukan laporan ke polisi terkait pengaturan skor dan hal lain terkait pelanggaran yang telah diinvestigasi menyita perhatian publik?

Pelanggaran match fixing itu sep­erti tindakan krimi­nalitas di sebuah negara. Analog­inya begini, jika bertanya sampai kapan match fixing akan berakhir. Itu seperti bertanya sampai kapan pencurian akan berakhir di negara ini, sampai kapan pencopetan akan berhenti di bus kota. Yang bisa kami lakukan adalah tiga hal.

Pertama adalah preventif, untuk ini kami telah bekerja sama dengan genio sport sejak satu tahun lalu.

Kedua adalah dengan mengutamakan hal yang perlu mendapat­kan perhatian, menginvestigasinya terlepas dari ada atau tidaknya laporan.

Ketiga meneruskan­nya ke tingkat peradilan yang lang­kah awalnya adalah Komisi Disiplin. Match fixing harus secara bersama-sama kita berantas dengan stakeholder lain.

Apakah Anda kenal dengan nama-nama yang diduga sebagai pelaku match fixing?

Saya tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan orang-orang itu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjadi bagian dari pengurus sebuah klub, tapi di keanggotaan PSSI ada sekian banyak klub dan satu klub bisa saja diurus oleh sekian banyak orang. Jadi kalau saya ditanya apakah saya kenal, saya jawab tidak.

Anda telah diperiksa oleh penyidik Satgas Antimafia Bola, apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan?

Awal Januari ini sebelum kongres, FIFA bisa hadir mendampingi PSSI, Kepolisian RI juga, karena ini juga kerja sama menyeluruh secara keamanan. Nanti kami akan berbicara bicaranya bukan hanya match-fixing, tapi juga pengamanan pertandingan, dan penegakan hukum sepak bola lainnya.

Bagaimana dengan komitmen PSSI sendiri?

Komitmen PSSI menjadikan sepak bola kita bersih, dan PSSI meminta dan mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk bisa turut serta membantu PSSI. Kita tidak bisa sendirian dalam hal ini. Mohon laporkan kepada kami apa pun itu. Nanti, kami follow up dan tindaklanjuti dengan baik.

Untuk Exco yang ditangkap, sesuai mekanisme organisasi, mereka dipilih oleh kongres, segala pemberhentian dan pengangkatan melalui kongres. Posisinya proses hukum tetap berjalan. Untuk di PSSI prosesnya akan ada berjalan di Komdis. beni mudesta/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment