Koran Jakarta | August 18 2017
No Comments

“Landed House” Usung Tren Fasad “Modern Classic”

“Landed House” Usung Tren Fasad “Modern Classic”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Seperti kawasan penyangga Ibu Kota lainnya, prospek investasi properti di Depok, Jawa Barat pergerakannya tak beda jauh dengan kota penyangga lainnya seperti Cibubur, Bekasi dan Serpong.

Khusus di Depok, kawasan di selatan Ibu Kota ini bisa menjadi pilihan menarik untuk berinvestasi properti. Salah satu kelebihannya adalah tersedianya beragam transportasi dan juga perkembangan infrastruktur yang kian signifikan.

Dalam beberapa tahun ini perkembangan properti khusunya hunian di Depok kian menjamur. Menurut General Manager Marketing Grand Depok City (GDC) Tony Hartono, semakin terbatasnya lahan pengembangan di sekitar pusat kota Depok (ruas jalan Lenteng Agung dan Margonda) kian pesat.

Kondisi ini memaksa developer hunian tapak (landed house) di segmen menengah dan menengah atas untuk memilih lokasi pengembangan ke arah selatan yang memiliki akses ke daerah Bogor seperti Sawangan, Kalimulya dan Citayam.

Sedangkan di kawasan pusat kota Depok, yakni Margonda kini semakin marak dibangun hunian vertikal atau apartemen. Berdiri di atas lahan seluas 350 hektar, PT Dinamika Alam Sejahtera (DAS) GDC, saat ini telah membangun 7 kluster di dalam proyeknya. Pada Sabtu (18/3) GDC meluncurkan cluster baru “New Façade at New Anggrek 2”. Produk ini menyasar segmen menengah, diyakini akan menarik minat masyarakat untuk memiliki hunian di GDC. Kawasan GDC telah menjadi kota mandiri, selain banyak berdiri kantor pemerintahan beberapa fasilitas besar seperti water park, sarana pendidikan, area komersial hingga lifestyle sudah banyak tumbuh di kawasan ini.

Selain itu beberapa brand besar juga telah masuk ke kawasan ini, seperti hadirnya showroom Kasasaki dan juga Astra International. New Anggrek 2 berdiri di atas lahan seluas 9 hektar yang merangkum 400 unit rumah dengan berbagai tipe mulai dari ukuran bangunan 37, 45, 55, dan 78 berkonsep 2 lantai, luas tanahnya semua tipe sama, 120 meter persegi. Dalam memasarkan produk baru ini pihak DAS menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR). Karina Triatmojo, marketing development manager GDC menambahkan, melihat permintaan pasar yang tinggi, pihaknya meluncurkan klaster Anggrek 2.

“Peluncuran new facade at New Anggrek 2 ini melanjutkan konsep sebelumnya. Bedanya, jika semula façade yang diusung adalah modern minimalis, kini modern classic. Perubahan façade ini untuk memberikan pilihan kepada konsumen dan akan ada penyegaran, perubahan dalam waktu tertentu,” imbuh Karina.

Sementara Tony menambahkan, GDC menyasar segmen menengah dengan harga saat ini mulai dari 800 jutaan rupiah per unit. Saat pertama kali diperkenalkan kepada publik, GDC sempat dibanderol 600 jutaan rupiah per unit.

“Tren harganya terus meningkat karena pasarnya cukup prospektif. Harga akan terus meningkat seiring perkembangan infrastruktur termasuk jalan utama kami yang akan dijadikan alun-alun kota Depok,” tutur Tony.

Selain itu lokasi GDC yang berada di kawasan Kalimulya memiliki kemudahan akses, hanya 10 menit menuju ruas jalan utama Margonda Raya dan satsiun kereta commuterline Depok Lama dan Depok Baru. yun/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment