Koran Jakarta | June 25 2018
No Comments
JENAK

#kamibersamapolisi dan Makin Waspada

#kamibersamapolisi dan Makin Waspada

Foto : Koran Jakarta/Ones
A   A   A   Pengaturan Font

Tagar #kamibersamapolisi, tanda pagar diiringi tulisan tanpa spasi, menunjukkan sikap spontan, juga berani, menentukan pilihan, menunjukkan sikap tegas dari masyarakat.

Masyarakat menunjukkan apresiasi yang tinggi, juga hormat dan mendukung apa yang dilakukan Polri—Kepolisian Republik Indonesia. Kericuhan, penyanderaan polisi di rumah tahanan Salemba cabang Markas Komando Brimob di Depok yang menewaskan lima orang Bhayangkara terbaik, dan empat lainnya luka disiksa, menimbulkan kemarahan, luapan emosi, untuk balas menghabisi para napiter—napi teroris yang begitu jahat, kejam, menyiksa, dan menggorok leher.

Namun, Polri menunjukkan keunggulannya, justru tidak dengan menyerbu habis—yang pasti akan dikecam mereka yang tak setuju, melainkan melakukan pendekatan lunak. Dan terbukti berhasil. Sejumlah 155 napiter, akhirnya menyerah. Sebelumnya mereka menguasai rumah tahanan, menyimpan senjata, juga menahan sandera.

Memang masih saja ada yang nyinyir, yang mengatakan peristiwa ini “direncanakan untuk menutupi kasus lain”, atau bahkan menyalahkan pemerintah, polisi atau bagian keamanan. Saya tak tertarik untuk membahasnya. Karena menghabiskan waktu dan menyakiti hati, serta kehilangan fokus yang sebenarnya.

Bahwa ketika peristiwa kejam, sadis, brutal menimpa kemanusiaan, ketika itu pula yang muncul di masyarakat adalah kebersamaan. Kemenangan bahwa masyarakat tidak menjadi takut karenanya, tidak juga gentar. Bahkan menunjukkan sikap dengan menyatakan sikap, dengan tampil dan berdoa bersama, dengan mengutuk perbuatan para napiter—yang masih melakukan perbuatan teror di rumah tahanan.

Kita turut berduka atas gugurnya para pahlawan yang menjalankan tugas, sekaligus juga berdoa. Pada titik ini kemenangan spiritual akan kebersamaan terasakan. Kisah Iptu Sulastri yang dihancurkan giginya, yang kini berulang tahun, menerbitkan optimisme, bahwa kemenangan atas derita dan siksa bisa dilalui.

Atau kasus yang lebih mengharukan. Salah seorang istri pahlawan melahirkan bayinya, ketika ayahnya meninggal dunia di rumah sakit yang sama. Mereka ini akan menjadi pengingat akan kemenangan atas derita, rasa takut, dan menginspirasi ketulusan berkorban. Kewarasan, keadaban, kebersamaan masih, dan tetap menang atas kekejaman yang sungguh tidak manusiawi.

Inilah yang harus selalu diingat bahwa Polri, dan semua kekuatan keamanan, jadi tumpuan untuk keamanan dan kenyamanan. Teroris diatasi, di lapangan, di rumah tahanan, atau di mana saja. Pada kesempatan ini saya ingin mengulangi, mengingatkan, bahwa pelumpuhan yang terjadi tidak sendirinya menjadi babak akhir, terutama bagi napiter yang sekarang dipindah ke lapas Nusakambangan, dan atau kelompok atau komunitasnya yang lebih luas.

Yang merasa menemukan contoh keberanian, contoh perlawanan, dan menjadikan makin nekat. Para napiter ini bagian dari yang belum tertangkap, yang masih akan melakukan aksinya, yang menyusun rencana, juga lebih teliti atau lebih mengerikan. Napiter tak akan tinggal diam begitu saja. Juga “penerus” atau simpatisannya.

Atau tokoh di belakangnya yang membekali dengan amunisi karena kepentingan berbeda. Dengan kata lain, tak bisa tidak pihak keamanan dituntut makin waspada, makin kuat mengantisipasi, sekaligus juga makin tegas melakukan tindakan. Tak ada cara lain. Kalau tidak terorisme akan berulang.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment