Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

“Hari Hoax Nasional”

“Hari Hoax Nasional”

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Tentu tak ada penetapan Hari Hoax Nasional, tanggal 3 Oktober lalu. Hari itu merupakan puncak hoax, hoaks, dengan pengakuan Ratna Sarumpaet bahwa ia melakukan kebohongan, bahwa ia melakukan “hoax terbaik”, seperti yang dikatakan sendiri. Setelah dua hari sempat ramai dan menjadi tren, inilah akhir sementara.

Dimulai dengan gambar perempuan yang bonyok wajahnya, dan diterangkan sebagai “Bunda Ratna”, yang dikeroyok, digebuki orang tak dikenal. Disusul penjelasan tempat kejadian perkara, dan makin membara karena para tokoh politik ikut menbenarkan kejadian itu. Ratna Sarumpaet, aktivis, seniman, bersuara vokal, adalah nama yang banyak didukung banyak orang.

Apalagi kelompoknya. Ditambah kisah ini merampok perhatian: seorang perempuan di usia 70-an, dikeroyok dengan semena-mena. Bermuncullah teori konspirasi. Dan bahkan kemudian sekali, Prabowo Subianto yang adalah calon presiden mengadakan konperensi pers mengutuk tindakan itu. Kemudian antiklimaks.

Ratna mengakui bahwa ia berbohong. Ia mengundurkan diri dari Tim untuk Prabowo-Sandi. Ia balik disudutkan karena berbohong. Kasusnya, besar kemungkinan berlanjut ke ranah hukum. Masih banyak analisis yang akan dikeluarkan, dipertentangkan, tentang konspirasi lain: ada, atau tiada, diungkap atau menguap.

Sebelum ini semua, ketika Fadli Zon menegaskan bahwa Ratna sebagai korban pengeroyokan yang ditemui dua hari lalu, saya memberi komentar di Twitter, rasanya ini jurus model “nabrak tiang listrik dan kepala benjol sebesar bakpao”. Jurus yang dilakukan pengacara Setya Novanto untuk mengelak dari penahanan.

Setelah kemudian terbukti hoax, cuitan saya diunggah kembali oleh beberapa teman. Saya bukan penerawang atau sejenis itu. Cuitan itu kebetulan tepat. Dasar saya hanya: cerita Ratna dikeroyok, dipukuli ketika turun dari taksi, dibuang, dimasukkan taksi, adalah termasuk “teori Ufo”. Atau kisah yang kehabisan bahan, hingga akhirnya dicarikan jalan penyelesaian di luar akal sehat: karena campur tangan makhluk angkasa luar.

Kebetulan saya mengenal Ratna 35 tahun yang lalu, ketika memproduksi serial tv, ACI—yang sekarang diputar lagi di TVRI. Kebetulan juga pernah sama-sama menjadi pengurus Dewan Kesenian Jakarta. Sedikit banyak mengenal Ratna—juga keluarganya, juga anak-anaknya, yang tak mengenal takut. Bimbang saja tidak.

Makanya agak aneh kalau sampai menutup mulut kala digebukin. Tidak sesuai dengan yang saya—atau orang lain kenal. Banyak yang janggal. Semua terbukti benar kalau bohong. Ratna sudah mengakui bahwa tanggal 21 September itu, dia ke klinik kecantikan. Dan dari situlah awal wajahnya bonyok.

Semua telah terlewati, tapi kisah tak berhenti di sini. Masih banyak sekali kemungkinan, masih banyak yang harus dimintai pertanggungjawaban. Banyak nama yang terlibat sebagai penyebar hoax yang memecah kebersamaan kita sebagai bangsa. Dan itu tidak mudah.

Karena yang terlibat kasus ini, tak seberani Ratna mengakui bahwa ia berbohong. Bahwa nama-nama yang disebutkan menolak mengakui keterlibatannya, bahkan cenderung cuci tangan. Atau mungkin Ratna Sarumpaet yang berani itu memperjelas lagi siapa yang terlibat merencanakan ini semua? 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment