Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments

“Hallyu” dan Budaya Bangsa

“Hallyu” dan Budaya Bangsa

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Nurul Yaqin

 

Acara penutupan (closing ceremony) Asian Games (AG) 2 September 2018 lalu membius perhatian publik. Sebanyak 55.000 tiket terjual habis. Ditambah para atlet, total penonton di Gelora Bung Karno mencapai 75 ribuan. Antusiasme masyarakat menghadari acara tersebut bukan hanya karena acara pembukaan AG yang spektakuler, tapi juga karena kehadiran artis fenomenal Korea, Super Junior (Suju). Hujan di GBK tak menyurutkan semangat penonton untuk berjingkrak-jingkrak menyaksikan langsung sang artis idola.

Memang dalam dua dekade terakhir, Korea menjadi pusat perhatian dunia. Penetrasi ekonomi begitu pesat, serta didukung fenomena revolusi masa Park Junghee tahun 1970-an mengantarkan negara ini bertransformasi menjadi negara maju. Perusahaan-perusahaan Korea telah tersebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Ketenaran Korea di mata dunia hasil kolaborasi antara nilai budaya dan kemajuan teknologi. Hallyu atau “demam Korea” adalah penyebaran budaya ke berbagai mancanegara. Ini menyebabkan masyarakat dunia tertarik mempelajari bahasa dan budayanya.

Sikap kolektivisme Korea telah terpupuk dengan sendirinya sebagai bangsa yang memiliki kebersamaan, sehingga identitas budaya Korea lebih mudah dikenal. Makanan khas Korea juga banyak dikenal, seperti kimchi, bulgogi, atau kimbab. Ini tentu berbeda saat bangsa Indonesia ditanya, makanan khas. Mereka akan menjawab bervariasi sesuai dengan etnis masing-masing. Sederhananya, homogenitas bangsa Korea lebih mudah mendefinisikan entitas dirinya (Daoed Joesoef dkk, 2017).

Korea percaya, budaya memiliki keunikan yang bisa menjadi daya jual tinggi di mata internasional. Film Korea juga digandrungi para remaja seantero jagat raya. Di dalam film-film selalu ditampilkan budaya Korea yang khas serta dikemas dengan teknologi mutakhir. Negeri Gingseng ini sukses mempertahankan nilai dan kearifan lokal yang kompatibel dengan tantangan zaman.

Meluasnya K-Pop, K-Drama, dan K-Food ke mancanegara salah satu kecerdikan Korea mengemas budaya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Di Indonesia saja tak sedikit generasi muda terbius yang berbau Korea. Ini mulai dari cara bicara, berpakaian, dan potongan rambut. Mereka rela merogoh kocek tak sedikit demi menghadiri konser artis Korea. Bahkan, para remaja Indonesia tak tabu menggunakan bahasa dan aksara Korea (hangeul).

 

Tergerus

Indonesia sarat nilai-nilai budaya. Namun, kearifan lokal ini semakin tergerus persaingan global. Alih-alih ingin menjadikan terkenal seperti Korea, kaum muda justru berhasil “dicuci otak” budaya luar yang begitu gencar menyerang. Remaja kita lebih fasih membawakan lagu-lagu Korea daripada tembang-tembang nasional. Mereka menyanyikan lagu-lagu nasional dalam upacara rutin banyak hanya diam karena tak hafal. Sedangkan di layar kaca sering tampak, bocah di bawah umur telah mahir bernyanyi dan menari ala Korea.

Selain itu, efek globalisasi juga memiliki andil besar menenggalamkan budaya Indonesia. Generasi muda lebih mudah mengakses para idola artis Korea seperti melalui internet. Dunia ujung jari telah menjadi jembatan memuluskan hallyu ke berbagai negara. Di media sosial saja banyak anak muda menggunakan foto artis Korea sebagai foto utama (profil). Budaya Korea sukses membius anak bangsa, bahkan tergila-gila.

Sebaliknya, budaya lokal semakin tak diminati. K-Pop dan drama Korea lebih menarik bagi remaja. Jangan bandingkan dengan lagu-lagu daerah atau nasional kita, dengan musik-musik Tanah Air yang lagi hit saja, musik Korea lebih banyak penggemarnya. “Korean Wave” telah berhasil mengubah mindset para muda hingga lintas negara. K-pop (Korean Pop- musik pop Korea) jenis musik populer Korea Selatan. Kegandrungan K-Pop merupakan salah satu wujud demam Korea. K-pop sangat merajalela di kalangan remaja Indonesia (Bens Leo, 2012).

Anehnya, remaja Indonesia merasa seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka merasa bangga jika fasih menyanyikan lagu Korea. Mereka percaya diri tinggi bila lincah menari Korea. Padahal, mereka sedang digempur dari segala sisi dan ini bisa mereduksi pondasi nasionalisme generasi muda. Jadi, negara luar tidak butuh senjata ampuh untuk menghancurkan bangsa-bangsa lain. Korea cukup meruntuhkan moral generasi mudanya.

Jika ini dibiarkan, akan terus memarjinalkan nilai budaya lokal yang sarat kebajikan. Kearifan lokal sebagai kekayaan bangsa harus dijaga agar tetap eksis di tengah arus budaya-budaya luar. Nilai-nilai budaya adalah harta karun yang tidak bisa ditukar dengan apa pun. Melestarikan budaya lokal harus tertanam kokoh dalam setiap pribadi. Jangan hanya kebakaran jenggot ketika budaya nasional diklaim tetangga. Andai kaum muda lebih bangga budaya asing, lalu siapa yang akan melestarikan budaya sendiri?

Nilai-nilai global telah masuk ke berbagai aspek kehidupan dan semakin cepat memarjinalkan budaya lokal. Tergerusnya budaya bangsa harus diantisipasi dengan penguatan nilai keindonesiaan (Daoed Joesoef dkk, 2017). Di tengah kegentingan generasi muda yang kehilangan cara mengenali jati diri bangsa, penerapan nilai budaya bangsa atau nilai keindonesiaan semakin penting. Harus ada pondasi kokoh bagi generasi muda berisi nilai budaya bangsa agar tidak mudah terpengaruh agresi kultur asing.

Jalur ideal untuk menanamkan nilai-nilai keindonesian lewat pendidikan formal, nonformal, dan informal (keluarga) yang harus berjalan sistematik. Dalam pendidikan formal penanaman nilai keindonesiaan terhadap siswa harus terealisasikan dengan baik. Guru sebagai aktor utama mengajarkan nilai budaya adalah kekayaan yang tidak boleh hilang. Guru tidak hanya mementingkan aspek kognitif, melainkan landasan pendidikan yang meliputi iman-ilmu humaniora, kebangsaan.

Pendidikan nonformal juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai keindonesiaan yang biasanya lebih menekankan pada tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari. Namun, itu tidak akan berjalan baik andai tidak dibarengi soft skills memadai. Kemampuan menyetir mobil adalah hard skills. Menjadi sopir yang baik adalah soft skills. Maka, melalui soft skills yang sudah diterpa dengan asupan kepedulian terhadap budaya bangsa akan melah.


Penulis Guru SMP Annur, Cikarang, Bekas

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment