“E-Commerce” Permudah Beredarnya Obat dan Makanan Ilegal | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Pengawasan Obat | Pemerintah Harus Memiliki Proteksi Dini

“E-Commerce” Permudah Beredarnya Obat dan Makanan Ilegal

“E-Commerce” Permudah Beredarnya Obat dan Makanan Ilegal

Foto : ISTIMEWA
Kepala BPOM, Penny K Lukito
A   A   A   Pengaturan Font
Keberadaan e-commerce, masyarakat dengan mudah memperoleh produk-produk, meskipun belum teruji kualitasnya.

 

JAKARTA – Maraknya e-commerce atau jual beli da­lam jaringan (daring) dinilai mempermudah peredaran jual beli obat dan makanan ilegal kepada masyarakat. Hal ini menjadi tantangan baru bagi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

“Jual beli produk dalam jaringan merupakan salah satu fokus tantangan BPOM untuk mengawasi peredaran obat ilegal,” kata Kepala BPOM, Penny K Lukito, di Jakarta, Se­nin (16/9).

Ia mengatakan keberadaan e-commerce tidak hanya berdam­pak positif bagi ekonomi digital, namun masyarakat secara be­bas bisa memperoleh produk-produk secara mudah meskipun belum teruji kualitasnya.

Biasanya, kata dia, masya­rakat, khususnya konsumen, lebih mudah terpengaruh un­tuk membeli produk-produk yang dijual murah melalui e-commerce, tanpa memikir­kan efek samping. Selain itu, daerah-daerah di perbatasan juga menjadi tantangan BPOM untuk mengantisipasi peredar­an obat dan makanan ilegal.

“Kemudian di era indus­tri 4.0 juga menjadi tantangan BPOM bagaimana mendorong UMKM dalam negeri untuk mandiri dan berdaya saing,” katanya.

Ketua Komisi IX DPR, Dede Yusuf, mengatakan masyarakat berhak mendapatkan obat dan makanan dengan catatan pe­merintah harus memiliki pro­teksi dini dalam mengawasinya sebelum dikonsumsi.

“BPOM merupakan sebuah lembaga satu-satunya badan di negara ini yang bertugas seba­gai benteng masyarakat meng­awasi sekitar 500 triliun indus­tri makanan, minuman, obat, dan kosmetik,” katanya.

Ia menyebut 70 triliun di antaranya merupakan industri obat, 100 triliun industri kos­metik, dan sekitar 300 hingga 400 triliun industri makanan dan minuman.

Tingginya angka tersebut, kata dia, merupakan tanggung jawab pemerintah, khususya BPOM, dalam memberikan jaminan kepada masyarakat. “Salah satu penyebab penyakit masyarakat bahwa sebagian besar karena produk makan­an,” kata dia.

Berdasarkan data yang di­milikinya, 10 macam penyakit ditangani BPJS Kesehatan di antaranya stroke, jantung, kan­ker, gagal ginjal, dan diabetes karena gaya hidup tidak sehat, terutama konsumsi makanan dan minuman.

Label Gizi

Dalam kesempatan tersebut, Penny juga mengatakan bebe­rapa macam penyakit tidak me­nular menduduki lima urutan teratas sebagai penyebab angka kematian. Menjaga asupan ma­kan sehari-hari bisa jadi salah satu langkah dalam mencegah penyakit tidak menular, seka­ligus mencegah resiko keku­rangan dan kelebihan gizi.

“Pada tahun 2019 terjadi pe­ningkatan prevalensi penyakit tidak menular yang salah satu­nya diakibatkan karena kon­sumsi pangan yang tidak mem­perhatikan keamanan, mutu, gizi, serta kecukupannya,” ujar Penny.

Terkait itu, pihaknya telah merevisi regulasi agar pelaku usaha pangan mencantum­kan nilai gizi pada kemasan produk. Hal tersebut juga di­lakukan agar konsumen lebih mudah memahami kandungan gizi dalam setiap produk.

Ia mengungkapkan untuk produk-produk yang meme­nuhi standar gizi akan ada la­bel tambahan yaitu label Pilih­an Sehat. Untuk tahap awal, regulasi label gizi ini akan dite­rapkan pada beberapa produk yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat.

“Secara bertahap label ini akan diterapkan untuk seluruh produk makanan. Pangan dan obat itu adalah penyebab dari berbagai penyakit. Jadi sangat penting bagi masyarakat untuk pintar memilih produk yang aman dan bermutu,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya masyarakat menjadi konsu­men yang cerdas dalam memi­lih produk yang bermutu dan aman.

Di sisi lain, berdasarkan survei Badan POM pada tahun 2016 dan 2017 terkait pemba­caan label pangan olahan me­nunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia untuk membaca label masih rendah. ruf/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment