Koran Jakarta | February 22 2017
No Comments

“Connected Car”, Pengembangan Mobil Masa Depan

“Connected Car”, Pengembangan Mobil Masa Depan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Tren industri mobil global telah bergeser. Mobil tidak lagi sekadar memindahkan orang dari satu titik ke titik yang lain. Kendaraan kian dilengkapi dengan teknologi canggih dan mengarah pada mobilitas yang lebih kompleks.

Terobosan menuju kendaraan yang berjalan tanpa pengemudi (autonomous vehicle) tengah diuji coba di berbagai negara. Berbagai merek global tengah aktif melakukan uji coba ini. Laporan-laporan mengenai hasil uji coba itu menunjukkan bahwa mobil tanpa pengemudi itu akan menjadi kenyataan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Perubahan ini telah mempengaruhi pemikiran perusahaan- perusahaan pembuat mobil, penyedia energi, layanan asuransi, layanan perawatan kesehatan, pembiayaan, pemerintah dan pembuat kebijakan serta para pemangku kepentingan industri otomotif lainnya.

Menurut Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), nilai-nilai ini berubah sejalan dengan munculnya kesadaran tentang ekosistem baru di dalam mobilitas (pergerakan orang). Generasi muda kini memilih pay-peruse mobility daripada memiliki mobil.

Bahkan, hampir 50 persen dari Generasi Y lebih menyukai menggunakansmartphone app untuk bertransportasi. “Evolusi menuju keseimbangan ekosistem baru masih terus berlangsung, dan teknologi inovatif tengah mengubah bagaimana perusahaan-perusahaan berkembang dan membuat kendaraan,” terang Yohanes.

Penggunaan tenaga listrik dan fuel-cell sebagai penggerak, menawarkan tenaga penggerak yang lebih besar dengan investasi energi dan tingkat emisi yang lebih rendah.

Kemudian, material yang lebih ringan memungkinkan perusahaan pembuat mobil menurunkan bobot kendaraan tanpa mengorbankan keamanan (safety) penumpang.

“Pada saat yang bersamaan, kita juga menyaksikan kemajuan pesat pada kendaraankendaraan yang terhubung (connected car) dengan infrastruktur (V2I) serta kendaraan2 yang saling terhubung dengan kendaraan lainnya (V2V), yang dimungkinkan oleh teknologi komunikasi yang terintegrasi dan jejaring internet,” papar Yohanes.

Di Indonesia memang perkembangannya belum sampai di titik itu. Namun, globalisasi membuat Indonesia masuk dan ikut bergerak dalam pusaran evolusi transportasi dan mobilitas pada tataran global itu.

Dalam kaitan itulah, tambah Yohanes, Gaikindo mempersiapkan diri dengan terus membangun industri otomotif Indonesia guna mengikuti industri dunia otomotif global.

“Dalam pameran “Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 yang akan digelar Agustus mendatang, Gaikindo akan menjadikan iven ini sebagai ajang untuk mengawali gerak langkah agen pemegang merek (APM) di Indonesia membangun dan mengembangkan industri otomotif Indonesia menuju masa depan,” jelas Yohanes.

Itu sebabnya, Gaikindo menetapkan ”Rise of the Future Mobility” sebagai tema GIIAS 2017. Untuk membangun dan mengembangkan industri otomotif Indonesia menuju masa depan, tentunya Gaikindo tidak dapat berjalan sendirian.

“Peran aktif dan dukungan pemerintah sangat diharapkan, bahkan diperlukan, demikian juga peran serta masyarakat,” katanya.

Khusus mengenai peran aktif pemerintah, sangatlah penting, mengingat untuk membangun dan membesarkan industri otomotif Indonesia, Gaikindo memerlukan kebijakan-kebijakan pemerintah yang memungkinkan hal itu terwujud, termasuk pemberian insentif dalam bentuk pengurangan pajak.  yun/E-6

Perkuat Pasar dengan “Green Technology”

Dengan menetapkan tema ”Rise of the Future Mobility” dalam GIIAS 2017 yang akan digelar pada Agustus 2017, tidak berarti Gaikindo melupakan gagasan teknologi hijau (green technology).

Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mengatakan, gagasan teknologi hijau itu tidak berdiri sendiri. Gagasan teknologi hijau itu merupakan salah satu bagian dari masa depan industri otomotif.

“Bahkan penggunaan tenaga listrik dan fuelcell sebagai tenaga penggerak, adalah bagian dari penerapan teknologi hijau yang terus digalakkan,” tegas Yohanes.

Semakin berkurangnya cadangan bahan bakar fosil di perut bumi, dan dampak pemanasan global yang diakibatkan oleh pencemaran lingkungan hidup yang tidak terkendali, membuat perusahaan-perusahaan pembuat mobil terpacu untuk membuat mobil-mobil yang semakin hemat dalam mengonsumsi bahan bakar dan mengurangi pencemaran udara hingga seminimal mungkin.

Diperkenalkanlah mobilmobil hibrida, yang menggabungkan mesin berpembakaran dalam (internal combustion engine) yang menggunakan bahan bakar minyak dengan motor listrik yang mendapatkan tenaga listriknya dari baterai.

Untuk saat ini, mobil yang menggunakan perangkat fuel-cell adalah mobil yang paling hijau, atau paling ramah lingkungan, mengingat mobil ini sama sekali tidak memiliki gas buang yang berbahaya. Gas buangnya, H20, alias air dan panas.

Teknologi hijau masih relevan untuk terus diperjuangkan, mengingat hingga kini pemerintah belum banyak berperan di dalam membantu pengembangan mobil-mobil berteknologi hijau.

Padahal insentif berupa pengurangan pajak bagi mobil- mobil berteknologi hijau dapat membantu menurunkan harga jual mobil-mobil tersebut sehingga penjualannya meningkat.

Pemerintah pun didorong untuk membantu tersedianya bahan bakar minyak yang bersih, yang memenuhi persyaratan Euro IV atau lebih, secara merata. Masyarakat pun diajak untuk turut serta di dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Misalnya dengan membeli mobil-mobil berteknologi hijau, menggunakan bahan bakar minyak yang memenuhi persyaratan Euro IV atau lebih, dan mengemudikan mobil secara benar sehingga konsumsi bahan bakar dapat ditekan seoptimal mungkin.

Memperbaiki cara mengemudi akan menghemat konsumsi bahan bakar minyak dan sekaligus mengurangi pencemaran udara sehingga kelestarian lingkungan hidup terjaga.

Seperti yang telah disebutkan di atas, teknologi hijau hanyalah salah satu bagian dari masa depan industri otomotif global. Mobil tanpa pengemudi tujuan akhirnya adalah untuk menghindari terjadinya kecelakaan.

Sebagai manusia, pengemudi memiliki keterbatasan, baik fisik maupun mental, sehingga kecelakaan rawan terjadi. Dengan mengurangi peran manusia, potensi kecelakaan dapat dihindari, mengingat lebih dari 80 persen kecelakaan terjadi karena faktor manusia (human factor).

Tingkat perkembangan industri otomotif Indonesia memang masih belum sampai ke tingkat perkembangan industri otomotif global. Akan tetapi, itu tidak berarti Indonesia hanya duduk diam dan berpangku tangan.

“Gaikindo menganggap Indonesia justru harus mempersiapkan diri dengan terus membangun dan mengembangkan industri otomotif dalam negeri untuk mengikuti industri otomotif global.”  yun/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment